Loading...
Keuangan

YLKI: Terlalu Kecil, Harusnya Kenaikan Rokok Jadi Rp 50.000

cp:istimewa


kabarin.co – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menandatangani Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 147/PMK.010/2016 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 179/PMK.011/2012 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Dalam beleid ini, selain menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10,54 persen, juga mengatur mengenai Harga Jual Eceran (HJE) rokok yang berlaku per 1 Januari 2017.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menilai, kenaikan cukai 10,54 persen masih terlalu kecil dan tidak akan berdampak pada konsumsi masyarakat. Menurutnya, cukai rokok harusnya dinaikkan minimal 20 persen atau harga rokok dinaikkan menjadi Rp 50.000 per bungkus.

“Jadi dengan kenaikan cukai rokok yang 10,54 persen enggak akan mampu menekan konsumsi masyarakat. Maka dari itu harus lebih tinggi. Mungkin bisa Rp 50.000 perbungkus seperti isu beberapa waktu yang lalu. Ditambah lagi banyak perokok pemula anak sekolah kalau naiknya tinggi kan mereka jadi berpikir ulang untuk beli rokok,” ujar Tulus melalui pesan singkatnya kepada merdeka.com, Jakarta, Selasa (11/10).

Tulus mengatakan, dari survei yang dilakukan pihaknya menemukan bahwa masyarakat mendukung agar cukai dan harga rokok dinaikkan secara signifikan. Hal ini untuk memproteksi masyarakat dari bahaya rokok. Dengan begitu akan dapat menekan konsumsi rokok di masyarakat.

“Kenapa untuk kenaikan tahun depan sudah diumumkan jauh-jauh hari? Dengan diumumkan sekarang, industri rokok bisa memproduksi sebanyak-banyaknya (menimbun) mumpung cukainya belum naik,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gapprindo), Muhaimin Moeftie mengeluhkan kebijakan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menaikkan tarif cukai rokok rata-rata sebesar 10,54 persen dan kenaikan Harga Jual Eceran (HJE) yang berlaku per 1 Januari 2017.

Menurut Muhaimin, kenaikan ini terlalu tinggi dan memukul industri rokok, khususnya grup Sigaret Putih Mesin (SPM). Dalam rincian hitungannya, cukai SPM naik 12 persen dan harga per batang bisa naik 10 persen. Muhaimin mengatakan, kenaikan cukai sebaiknya mengikuti inflasi yaitu hanya 6 persen.

“Sekarang industri saja sudah stagnan, kasih kita nafas dulu-lah. Kalau menurut saya 6 persen itu kita masih bisa imbangi,” ucapnya ketika dihubungi merdeka.com di Jakarta, Senin (10/10).

Kenaikan cukai dan HJE diakui akan memukul daya saing industri dalam negeri. Parahnya lagi, dalam 2 tahun terakhir volume industri masih stagnan dan tidak ada perkembangan. “Setelah naik ini, kita masih bisa stagnan itu sudah sangat bagus.”(mer)

Baca juga:









loading...

Pemerintah Lelang Surat Utang Rp 12 Triliun Untuk Biaya APBN

Google Tak Bermoral, Soal Pajak

Susi: 5 Pengusaha Menguasai Pelabuhan Perikanan Muara baru

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler

To Top