Loading...
Kriminal

Tito di Balik Sidang AHok

Besok, 13 Desember 2016, Basuki Tjahja Purnama alias A Hok akan menjadi pesakitan atau duduk di kursi menjadi terdakwa dalam kasus penistaan agama.

cp: muqawamah media



kabarin.co – Besok, 13 Desember 2016, Basuki Tjahja Purnama alias A Hok akan menjadi pesakitan atau duduk di kursi menjadi terdakwa dalam kasus penistaan agama. Saat melakukan penistaan itu, A Hok masih sebagai pejabat negara, yaitu Gubernur DKI Jakarta, yang sedang menjalankan tugas kerjanya ke Kepulauan Seribu.

Tak mudah untuk menyeret A Hok menjadi tersangka dalam kasus ini. Sejumlah pihak membekingi, seolah menghalanginya. Muncullah dugaan aparat penegak hukum “masuk angin”. Di masyarakat timbul pro kontra baik di sosial media, maupun di media arus utama. Lalu terjadi gerakan dan desakan dari masyarakat untuk penegakan hukum ini, sehingga timbul tiga jilid aksi (bela Islam), yang terakhir 212 (2 Desember 2016).

Tekanan masyarakat, tanpa kesadaran aparat untuk benar-benar menegakkan hukum cuma akan menimbulkan keresahan sosial. Tapi, penegakan hukum tanpa bukti-bukti yang kuat ad alah pemaksaan kehendak. Siapa yang menyebabkan A Hok, yang sepertinya tak tersentuh hukum itu, duduk di kursi terdakwa?

Sumber indonesiapolicy.com bercerita peristiwanya. Sehari menjelang penepatan tersangka A Hok, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian, menghadap Presiden Joko Widodo (Jokowi), saat itu di ruang tersebut hadir juga Menteri Pramono Anung. Tito melaporkan perkembangan kasus penistaan oleh A Hok, dan akan menjadikan A Hok sebagai tersangka. Tito memaparkan sejumlah bukti dan argumen kepada presiden. Bukan langsung setuju Jokowi  minta agar Tito menghadap Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Sukarnoputri.

Mendapat saran Presiden Jokowi itu, Tito tak langsung menyetujui. “Begini pak Presiden, saya siap dicopot, bila saya salah (menjadikan A Hok tersangka). Tapi,  beri saya waktu sehari sebelum dicopot,”ujar Tito seperti ditirukan sumber tersebut. Namun, bukan jengah, Jokowi justru mendukung ketegasan Kapolri tersebut. “Oke, kalau begitu keyakinan Pak Tito, jalankan, saya akan back-up,”ujar Jokowi, seperti, didengar sumber indonesiapolicy.com.

Lalu Kapolri Tito menyiapkan 27 penyidik polri yang andal, agar tak ada yang “masuk angin”. Pemeriksaan marathon, hingga langsung disampaikan ke Kejaksaan, Pihak penuntut umum (Kejaksaan), juga tak bisa menolak, karena tak ada celah lagi mengembalikan berkas dari penyidik Polri.

Tak salah, Kapolri Tito, sempat keprucut bicara di depan jutaan massa aksi 212, bahwa Polri yang bisa menyeret A Hok menjadi tersangka. Sementara instutusi lain, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dimana banyak kasus menyangkut A Hok tak bisa berbuat apa-apa. “Pernyataan Tito di depan massa 212 itu keluar dari hati nuraninya, emosinya tumpah karena melihat massa yang begitu tertib dan damai,”ujar sumber  itu.

Semoga niat baik Kapolri ini berlanjut ke penegak hukum berikutnya. Jangan mempermainkan keadilan dan perasaan publik. Bola kini berada di tangan Jaksa dan Hakim. Harapan masyarakat, Majelis Hakim besok menetapkan A Hok ditahan, seperti kasus-kasus penistaan lainnya. (indonesiapolicy.com)

Baca Juga:

Sepekan Sidang Perdana Kasus Ahok, PN Jakarta Masih Pertimbangkan Tempat








loading...

Kasus Ahok Akan Disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara

 

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top