Loading...
Euro 2016

Sepakbola Pentas Drama: Pemain Kroasia pun Menangis di Lens

Drama-drama di lapangan saat Kroasia dikalahkan Portugal dalam babak 16 besar Euro 2016. (foto-foto: dailymail, getty images, reuters)

Kabarin – Kroasia tampil sangat impresif dan memukau di fase grup, bhakan mampu tampil sebagai juara Grup dengan mengalahkan Spanyol. Bahkan, mereka pun diyakini akan mampu melewati hadangan Portugal di babak 16 besar.

Tapi, sepakbola tetaplah sebuah pentas drama. Kroasia yang impresif, ternyata berakhir dengan menyedihkan di laga 16 besar, kalah 0-1 dari Portugal dalam masa perpanjangan waktu.

Tak heran jika para pemain mereka menangisi nasib mereka di Lens. Tampil lebih meyakinkan, lebih layak menang, punya lebih banyak peluang gol, tapi satu hal yang tak dimiliki, keberuntungan.

Stade Bollaert-Delelis, tangis para pemain Kroasia pun tumpah. Play maker Luca Modric terlihat menitikan air mata di lapangan, karena timnya dipastikan pulang lebih dulu menyusul gol telat Ricardo Quaresma.

Baca Juga  Dendi Sulistyawan vs Irsyad Maulana, Duel Bintang yang Terlempar dari Timnas

modric-3

Moment dramatis pun dimulai. Melihat rekan setimnya di Real Madrid tak dapat menahan kesedihan, bintang Portugal Ronaldo menunjukkan simpati dengan mendatangi Modric, menyalami dan memeluknya. Begitu juga dengan Pepe, bek Portugal yang juga main di Real Madrid, menghibur Modric yang terpukul dan terduduk menangis.

modric

Pemandangan lain, Kapten Darijo Srna menunduk dalam-dalam dalam posisi berjongkok, dan tampak sesenggukan. Mengingat usianya sudah 34 tahun, mungkin itulah momen terakhir Srna di timnas Kroasia.

Bek kanan yang sejak 2003 membela klub Shakhtar Donetsk itu menjalani Euro 2016 dengan luar biasa. Selain menjadi pemimpin yang berkharisma, ia juga memainkan setiap pertandingannya dengan gagah berani.

Cerita mengharukan tentang Srna datang tak lama setelah Kroasia bermain seri melawan Turki di Matchday 1. Ia langsung terbang ke kampung halamannya setelah mendengar kabar ayahnya meninggal dunia saat pertandingan berlangsung.

Baca Juga  Di Kandang Sendiri, Sriwijaya FC Diberondong Bhayangkara SU Empat Gol tanpa Balas

Setelah itu ia langsung kembali ke Prancis dan mengungkapkan bahwa pesan terakhir ayahnya sebelum meninggal adalah supaya dia membela Kroasia dengan sepenuh hati. Dan semua orang bisa melihat, betapa Srna melakukan itu sepanjang Euro.

modric-2

Begitu pula dengan Domagoj Vida. Bek berkucir yang tampil tangguh ini, dengan tongkrongannya yang “garang”, seketika menjadi “lemah” oleh kekalahan, menangis dalam hamparan lapangan hijau.

Ya, Kroasia memang pantas bersedih hati dengan kegagalan mereka menembus level lebih tinggi lagi. Sebab, mereka tampil menawan di fase grup, tidak terkalahkan dari tiga pertandingan, plus menaklukkan tim favorit Spanyol.

Penampilan mereka melawan Portugal juga lebih baik. Pasukan Ante Cacic lebih dominan dalam penguasaan bola, dan membuat percobaan tiga kali lebih sering daripada tim lawan. Ketidakberuntungan menyergap mereka hanya tiga menit sebelum babak tambahan selesai, sedangkan mungkin mereka bernasib mujur di drama adu penalti.

Baca Juga  Preview: Belgia vs Italia, Duel Pembuka Grup Maut

“Saya tak bisa menceritakan semua reaksi tim kami di dressing room. Tapi, saya belum pernah melihat tangisan sebanyak itu,” tutur gelandang Ivan Rakitic dalam situs resmi turnamen.

“Meskipun sedih dan merasa hasil ini tidak adil, kami berterima kasih kepada semua orang. Saya rasa semua bisa melihat, kami telah mengerahkan seluruh kemampuan kami.”katanya.(*/dts/goal)

modric-9

Baca Juga:
Petaka Menit 113 Kroasia, Gol Quaresma Antarkan Portugal 8 Besar
Preview: Jerman vs Slovakia, “Der Panzer” Dalam Tekanan

Loading...

Terpopuler


To Top