Loading...
Tokoh & Sejarah

Sang Srikandi Yang Berjaya Di Negeri Seberang

kabarin.co – Tentu sebagian dari kita pernah bepergian dengan transportasi udara, dengan segala kenyamanan dan faktor keselamatan yang di berikan agar kita semua dapat tiba dengan selamat hingga ke tujuan.

Semua itu di susun dalam pembuatan pesawat terbang dari awal berupa bahan baku hingga menjadi pesawat yang melayani maskapai yang kita pakai. semuanya membutuhkan koordinasi dan kerjasama antar tim yang terdiri dari orang-orang pilihan yang berdedikasi tinggi.

Sebut saja Boeing 737 (dan pesawat komersil lainnya lansiran pabrikan asal Everret, Wahington State, Amerika Serikat), pesawat yang tidak asing di kalangan masyarakat Indonesia dan maskapai lokal yang melayani jalur domestik dan internasional. Bebekal ketangguhannya, pesawat ini merupakan salah satu pesawat yang paling laris yang di gunakan oleh maskapai di seluruh dunia, hingga sebagian kecil di kalangan militer.

Namun siapa sangka jika salah satu otak di balik kesuksesan pesawat ini, dan pesawat lansiran Boeing lainnya adalah seorang insinyur asal Indonesia? Ya betul, Indonesia.

Beliau adalah Ir. Diah S Darmawaty.

Tidak banyak orang Indonesia tahu, bahwa Diah S Darmawaty adalah insinyur wanita jebolan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) kini berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia, karirnya menanjak di Boeing Company, Seattle, Amerika Serikat.

Baca Juga  5 Cara Gila Ini Pernah Dilakukan CIA untuk Membantai Fidel Castro

Cenderung pendiam dan lebih banyak bekerja keras sambil belajar (learning by doing), Diah kini menjadi srikandi alumnus IPTN yang pantas diapresiasi. Bahkan bisa dibanggakan sebagai anak kandung bapak pembangunan teknologi Prof BJ Habibie, mantan Menristek dan Presiden RI.

Mengapa Diah layak diapresiasi?

Pasalnya, dari sekitar 30-an alumni IPTN yang berkiprah di Boeing yang hampir semua pria, Diah adalah satu dari dua perempuan yang berhasil menanjak karirnya di bidang aeronatika. Perempuan kelahiran 40 tahun lalu itu dikenal tak suka banyak bicara apalagi bertemu wartawan.

Di bawah udara dingin dengan rintik salju tipis, saya temui Diah di luar jam kerja Boeing, perusahaan pembuat pesawat terbang AS yang super sibuk itu, kemarin. Terimakasih Tuhan, saya tak menyangka, kita dipertemukan di sini ya?, ujarnya tersenyum, didampingi sang suami Ir Effendy.

Beberapa teman lulusan IPTN seperti Ir Tony Soeharto dan Ir Soepeno yang juga tinggal di Seattle merekomendasikan saya untuk bertemu dengan Diah. Banyak orang mengira dia lulusan ITB, padahal bukan. Dia datang dari kampus Sriwijaya, Palembang. Di Boeing, banyak orang AS tak tahu dimana Sriwijaya itu, di Indiakah? Atau di Bali?.

Baca Juga  Indonesia Menghadapi Thailand, Sejarah Pertandingan Diantara Keduanya

Sebagai anak negeri dari Palembang, Diah Darmawaty yang lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Sriwijaya, Sumsel itu, tidak pernah menyangka akan dipanggil test Boeing dan bekerja di perusahaan raksasa dengan karyawan lebih dari 160 ribu orang dan produksi pesawat lebih dari 1 unit per hari atau lebih dari 365 pesawat per tahun.

Setelah banyak rekan saya terkena lay off (pensiun dini) oleh IPTN akibat krisis moneter yang menerjang Indonesia 1997-1998, saya sempat termenung, tidak tahu harus bagaimana dan saya tetap berkiprah di IPTN sampai 2004, di tengah situasi gonjang-ganjing. Saya bertahan ingin berkarir di IPTN sebagai seorang insinyur, tutur Diah pelan.

Diah merasa ia bukan tipe pemikir dan cendekiawan. Ia hanya merasa seorang insinyur yang terkagum dan ingin meneruskan cita-cita dan kehebatan Prof BJ Habibie. Dia orang hebat, the great engineer, yang mendidik saya di IPTN. Saya anak negeri, dari Palembang, yang sering dianggap seperti anak bawang di IPTN karena saya bukan alumnus ITB,UI atau UGM, bebernya.

Baca Juga  Raja Arab Saudi Pernah Angkat Putra Minang Jadi Kepala Polisi di Riyadh, Ini Ceritanya

Dalam bekerja, ia selalu ingat pesan ibu dan ayahnya di Palembang agar tak boleh menyerah, banyak belajar dan menyesuaikan diri. Ini menyangkut dignity dan harga diri, imbuhnya dengan mata berkaca-kaca mengenang hari-hari pertamanya sebagai wong kito galo di IPTN pada 1993.

Pada waktu itu, Diah yang berlatar insinyur Teknik Sipil UNSRI harus belajar Aeronatika dengan cepat dan tepat , jika tak mau terkena PHK dari IPTN. Background saya civil engineering, bukan Aeronatika. Ini hal baru bagi saya, katanya perlahan.

Diah memang masih berada di zona masa percobaan dalam prosesi training untuk waktu sebulan-dua bulan di IPTN yang megah saat era Orde Baru itu. IPTN pimpinan Pak Habibie adalah sekolah terbaik dan kebanggaan simbolik kita sebagai insinyur Indonesia yang bekerja di bidang aeronatika, saya tak akan melupakannya, tandasnya.

Laman: 1 2 3

Loading...

Terpopuler


To Top