Loading...
KabarUtama

Salah Sasaran Kasus Makar: Kenapa Bonggolnya Tak Ditangkap?

“Tembakan” polisi dalam kasus makar bagaikan orang buta memuntahkan peluru. Bisa saja salah sasaran, dan orang tak tersangkut menjadi korbannya.

cp: indonesia jurnal



kabarin.co – “Tembakan” polisi dalam kasus makar bagaikan orang buta memuntahkan peluru. Bisa saja salah sasaran, dan orang tak tersangkut menjadi korbannya. Hal ini dirasakan sekelompok aktivis yang bermukim di Rumah Kedaulatan Rakyat, Jalan Guntur 49, Setia Budi, Jakarta Selatan.

Salah Sasaran Kasus Makar: Kenapa Bonggolnya Tak Ditangkap?

Setelah pekan lalu menggeledah rumah yang menjadi Pusat Dokumentasi Politik, wakaf dari tokoh nasional Soebadio Sastrosatomo, suami dari Menteri Sosial perempuan pertama kabinet Presiden Soekarno, Maria Ulfah.  Dalam penggeledahan itu polisi mengambil sejumlah barang yang dianggap sebagai barang bukti makar atas tersangka Sri Bintang Pamungkas. Walaupun barang-barang yang diambil polisi tak berhubungan dengan tersangka.  Hari ini sejumlah orang mendapat surat panggilan untuk sebagai saksi.

Salah seorang diantaranya Hadi Joban. Dia heran, atas surat panggilan itu. “Hanya gara-gara Sri Bintang dan kawan-kawan bikin diskusi di rumah ini tiap Senin, dan kami tinggal disini, kami dikaitkan. Ini tidak fair,”ujarnya. Anehnya, Joban dalam surat panggilan saksi itu bersaksi untuk Sri Bintang saat ceramah di Kolong Tol Kalijodo.  “Gue sama sekali gak tahu menahu soal kejadian di Kalijodo, gw gak ada disitu, aneh,,”ujarnya.

Sejumlah orang yang sempat diperiksa saat penggeledahan juga kecewa dengan cara-cara polisi. “Ini teror kepada kami,”katanya. Padahal para aktivis yang tinggal di tempat itu banyak yang tidak sepaham dengan Sri Bintang. “Setahu kami yang Sri Bintang lakukan diskusi dengan kritik keras kepada pemerintah, bukan gerakan makar,”ujar aktivis itu lagi.

Sebenarnya, kalau polisi mau jujur dan serius dalam menyelidiki makar ini, bisa ketahuan puncaknya ada dimana. Dan Sri Bintang Pamungkas. bukanlah bagian dari itu. Jika mau diurut, kelompok yang ingin kembali kepada Undang-undang Dasar 1945, kalau itu yang dimaksud polisi sebagai perbuatan makar, akan tampak pada sejumlah pensiunan Jenderal yang dekat dengan keluarga Cendana. Sehingga tak salah jika, salah seorang keluarga Cendana, Tommy Suharto dituding sebagai orang yang mendanai “proyek” makar itu. Tommy, sendiri membantah tudingan itu.

Walaupun salah seorang yang mengaku sebagai Ketua Yayasan Solidaritas Sahabat Cendara (SSC), Firza Hussein, ikut dinyatakan sebagai tersangka. Firza hanyalah serpihan kecil dalam kasus makar, yang ingin menggulingkan pemerintah. Memang, Tommy Soeharto, seringkali dikaitkan sebagai penyandang dana dari kegiatan-kegiatan anti pemerintah. Terutama yang berbau agama. Walau tak pernah ada bukti.

Tapi Tommy sendiri tak pernah dipanggil polisi. Juga dengan Jenderal yang dikenal dekat dengan keluarga Cendana tersebut. Kalau polisi hanya menyasar recehan, kasus makar yang dituduhkan pada sejumlah orang cuma jadi kasus abu-abu, tak kena sasaran dan cuma asal ada tersangka, agar orang-orang takut kritis terhadap pemerintah. Sayang sekali. (indonesiapolicy.com)

Baca Juga:

Terkait Dugaan Makar, Polda Metro Jaya Periksa Ahmad Dhani dan Buni Yani








loading...

Polisi Mendatangi Rumah Tersangka “Makar” Sri Bintang, Tidak Tahu Cari Apa

Peneliti : Pemerintahan Jokowi Bakal “Bubar tanpa Makar!”

 

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler

To Top