Loading...
Nasional

Politisi PDIP Nilai Gatot Nurmantyo Bisa Pecah Belah TNI

kabarin.co – Politisi PDIP Eva Kusuma Sundari menilai tindakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belakangan ini sudah diluar batas. Salah satu tindakannya yakni memerintahkan prajuritnya menonton film “Pengkhianatan G30S/PKI”, Eva menyebut Gatot tidak memahami sesuatu yang penting.

“Dia tidak paham bahwa film itu dihentikan atas pertimbangan-pertimbangan dari dalam elemen TNI sendiri. Dihentikan karena keberatan dari TNI AU, dan pada saat itu sudah disetujui di tingkat kebijakan,” kata Eva dilansir dari VIVA.co.id, Kamis, 28 September 2017.

Politisi PDIP Nilai Gatot Nurmantyo Bisa Pecah Belah TNI

Menurutnya, perintah pemutaran kembali itu dilakukan dengan cara yang sangat ceroboh sehingga memicu kontroversi dan polemik saat ini.

Baca Juga  Pesawat TNI Diberitakan Hilang Kontak di Wamena, Diduga Menabrak Gunung Rugima

“Seorang pemimpin itu gak akan egolah ya. Seorang panglima itukan fokusnya ke pertahanan, bukan kemudian memancing polemik dan diskusi kontroversi di ranah non pertahanan,” kata Eva lagi.

Eva mengatakan manuver Gatot dapat memicu perpecahan di internal TNI lantaran kebijakan untuk penghentian itu justru dari dalam TNI itu sendiri khususnya AU.

Beliau sebagai panglima justru menyebabkan segregasi di dalam TNI sendiri sehingga timbul potensial membuat pecah di dalam TNI. Bayangkan pasukan perang untuk pertahanan tapi di dalamnya gak kompak,” katanya.

Baca Juga  OTT di Bekasi, KPK Sita Uang Total Rp1 Miliar

Tak hanya itu, Eva menyebut Gatot sangan tidak sensitif dengan perintah menonton film tersebut.

“Tidak usah politiklah. KPAI protes, Mendikbud protes, karena konten dari film itu tidak bagus untuk konsumsi anak-anak. Karena kekerasan. Intinya Pak Gatot sudah di luar porsinya, dan memerintahkan kebijakannya itu tidak hati-hati, menyebabkan heboh dan tidak sesuai dengan tupoksinya. Kalau pertahanan ya gak usah urus yang lain,” ujar Eva.

Kemudian mengenai persoalan senjata, Eva menilai Gatot tidak membaca UU TNI, bahwa setelah reformasi polisi tidak berada di bawahnya. Dia mengatakan polisi independen, langsung di bawahnya presiden dan berhak membeli senjata.

Baca Juga  Ruang Kerja Anggota DPR Fraksi Gerindra Ditembak

“Pak Gatot tidak paham konteks kekinian. Border-border (batas) beliau tabrak. Dan terutama sekali yang saya sedih ketika menantang menhan. Atasan saya adalah presiden bukan menhan. Menurutku kok gak bagus. Intinya sudah beyond the line, beyond the coridor ya, dia lakukan, urusan politiknya kental sekali,” demikian Eva Kusuma Sundari. (epr/viv)

Baca Juga:

Jokowi Diminta Evaluasi Posisi Panglima TNI Gatot Nurmatyo Terkait Bocornya Informasi Intelijen

Soal Nobar Film G30S/PKI, Panglima TNI: Kalau Perintah Saya, Kenapa?

Panglima TNI Gatot Nurmantyo Heran Ada ‘Ulama’ Ingin Ubah Pancasila

Loading...

Terpopuler


To Top