Loading...
KabarinAja

Karya Erotis Enny Arrow, Memorabilia Serpihan Pop Culture Masa Lalu Indonesia

foto-foto: google

Ia bercerita, buku-buku Enny Arrow sempat banyak dicari tahun-tahun yang lalu–di luar benar-tidaknya harga yang ia sebutkan. Ia juga menganggap tidak beredarnya lagi buku-buku Enny Arrow saat ini ialah karena kemudahan mengakses konten-konten pornografi yang ditawarkan internet.

“Itu sempat booming dua tahun lalu. Mahal harganya juga, satu buku bisa sampai satu juta rupiah waktu itu. Udah lama enggak terbit, sejak ada VCD-VCD. Tahun 2002 masih ada. Majalah (dewasa) ini aja juga bagus,” kata dia.

Di antara buku-buku lama yang ditumpuk di sebuah lapak, terdapat buku-buku Fredy S. dan Motinggo Busye. Kami iseng-iseng mengambil beberapa buku Motinggo dan membacanya.

Menurut empunya lapak ini, dalam novel Motinggo sebetulnya banyak juga narasi vulgar walaupun tidak sedahsyat Enny Arrow.

“Sambil menghisap rokok Dji-Sam-Soe, penyair Darwin Dosilla melihat wanita itu menggeletak. Darwin merasa dirinya pahlawan matador yang menang bertarung…”
Nukilan paragraf di atas terdapat pada bab enam buku Rosana karangan Motinggo Busye, yang kami lihat di toko tersebut.

Mungkin karena kevulgaran dalam cerita-cerita Motinggo Busye itulah, penyair Sutardji Calzoum Bahcri berseloroh usil. “Pada suatu hari, dia (Sutardji) berkata pada saya, ‘Motinggo, kau ini manusia yang disayang Tuhan, sekaligus disayang setan,’” tulis Motinggo dalam buku Proses Kreatif yang dieditori Pamusuk Eneste.

Baca Juga  Tak mau Kalah dengan Emak-emak, Pelajar Ini Ikut-ikutan Konyol Terobos Cor Beton Basah

Tak heran jika karya Motinggo kerap disebut pula masuk kategori sastra erotika, bersama Fredy S. dan Enny Arrow.

Eka Kurniawan, pengarang ‘Lelaki Harimau’–novel yang masuk nominasi bergengsi The Man Booker International Prize 2016–dalam tulisan di blog pribadinya pun mengaku terilhami karya Motinggo, ‘Tujuh Manusia Harimau’.

Menurut situs Ensiklopedi Tokoh Indonesia, Motinggo Busye lahir pada 21 November 1937 di Kupangkota, Telukbetung, Lampung. Nama aslinya Bustami Djalid. Karya-karyanya merentang dari tahun 1960-an hingga 1990-an, yang berjumlah sekitar 200 judul.

Novel-novel Motinggo, antara lain Malam Jahanam (1962), Tidak Menyerah (1963), Hari Ini Tak Ada Cinta (1963), Perempuan Itu Bernama Barabah (1963), Dosa Kita Semua (1963), dan Tiada Belas Kasihan (1963).

Seperti ditulis dalam Radiobuku, nama Motinggo menjadi perintis novel-novel populer bertema percintaan yang membanjiri pasar buku Indonesia pada 1970-an. Ia dianggap mempopulerkan novel percintaan dengan melukiskan seksualitas yang lebih terbuka, dan kisah asmara yang manis.

Baca Juga  Besi Proyek Rusun Pasar Rumput Jatuh Menimpa Warga, 1 Orang Meninggal Dunia

Oleh karena itu, Motinggo sering disebut sebagai penulis porno, meskipun sebenarnya banyak pula novel-novelnya yang terbebas dari narasi yang berkutat pada seksualitas.

Ketertarikan Motinggo Busye menulis novel-novel erotika dinilai dipengaruhi kondisi sosial-ekonominya saat itu.

Karya Motinggo Busye, Malam Jahanam, masuk dalam seratus karya yang patut dibaca versi buku ‘Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan’ pada urutan ke-26.

“Motinggo is not only a realistic author …” kata pakar sastra dan budaya Indonesia asal Belanda, Andries Teeuw, mengakui bakat Motinggo dalam bukunya, Modern Indonesian Literature.

Usai melihat-lihat novel Motinggo Busye, kami pun melanjutkan perburuan karya Enny Arrow di lapak pedagang lain. Dan, yang tidak disangka, kami menemukan Enny Arrow di lapak dagangan yang hanya berjarak sekitar lima meter dari tempat semula.

“Pak, ada buku-buku Enny Arrow?” tanya kami kepada laki-laki berkacamata, mungkin usia 60-an, yang sedang merapikan buku-buku di lapaknya.
Dia hanya menjawab, “Enny Arrow?”. Lalu diam dan membalikkan badan untuk mengambil buku dari tumpukan di rak buku yang berada di belakangnya.

Baca Juga  Pemprov Akui Banjir yang Melanda Jakarta Kejadian Luar Biasa

Diserahkannya buku tipis itu kepada kami. Buku dengan sampul seorang perempuan bule berambut pirang. Tangan kanan perempuan itu menyentuh rambutnya, sementara tangan kiri menahan tubuhnya untuk mempertahankan pose.

Perempuan bergaun biru itu tersenyum manis. Bola matanya hitam, sedangkan bagian dadanya sedikit terbuka. Di sudut kanan atas sampul buku itu tertulis: Enny Arrow. Dan pada bagian bawahnya tertulis sebuah judul, “Pengaruh Obat Bius”.

Jantung kami berdebar. Akhirnya, pencarian tak sia-sia. Buku yang pada masanya mungkin dihargai Rp 1.500 itu kami buka. Dan jeng jeng… isinya membuat kami buru-buru mengambil kesimpulan bahwa ini adalah benar buku Enny Arrow.

“Sungguh merupakan perpaduan asmara dan gila rasa…” Demikian petikan kalimat terakhir penutup buku tersebut. Apapun katamulah, Arrow. Yang penting kami lega sudah menemukanmu, serpihan pop culture masa lalu Indonesia yang tersisa.(*)

Laman: 1 2 3 4

Loading...

Terpopuler


To Top