Loading...
KabarinAja

Karya Erotis Enny Arrow, Memorabilia Serpihan Pop Culture Masa Lalu Indonesia

foto-foto: google

Kemisteriusan Fredy S. bukan satu-satunya hal yang membuat dia kerap dimasukkan ke dalam kotak kategori yang sama dengan Enny Arrow. Melainkan juga karena cerita-cerita dalam novelnya mengandung unsur erotik, sehingga tak sedikit yang memandangnya sebagai roman picisan.

“Ketika roman seks mengalami orgasme yang kemudian ledakan buku seks itu didulang-ulang antara tahun 2002-2004, nama Fredy S. adalah ikon. Ia penulis roman yang prolifik, lancar ceritanya, memikat plotnya, dan tentu saja merangsang insting purba pembacanya. Laki-perempuan. Apalagi dilengkapi dengan sosoknya yang misterius. Sempurna sudah,” jelas Muhidin.

Pengaruh karya Fredy S. bahkan dicatat Muhidin dalam buku yang dikerjakan bersama teman-temannya, ‘Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan’. Buku yang berisi resensi karya seratus buku itu juga turut mengulas pengarangnya.

Uniknya, seperti dilaporkan Historia, nomor urut 32 dari 100 buku dikosongkan. Tempat itu disediakan bagi Fredy S. Namun karena Muhidin dan teman-temannya belum bisa mengurai identitas sosok Fredy, maka urutan tersebut dikosongkan.
Begitulah kira-kira sepenggal kisah Fredy S.

Baca Juga  Nama Erwin Aksa Masuk Bursa Wagub DKI, Anies Baswedan Kaget

Pedagang di Pasar Senen yang berbincang dengan kami lantas menyodorkan empat buku karya Fredy: ‘Ketika Cinta Bersenandung’, ‘Perkawinan Berduri’, ‘Penantian di Batas Cakrawala’, dan ‘Mahligai yang Tercampak’.

Dari sampul bukunya, kami sudah bisa merasakan aura jadul buku tersebut. Tetapi tetap saja, “Yah, maunya Enny Arrow, Pak,” kata kami kukuh.

“Sama aja, cerita-cerita dewasa juga kan. Cuma memang kurang vulgar,” kata pedagang tersebut. Kami pun mengucapkan terima kasih dan berlalu pada pedagang buku lainnya.

Kali ini seorang bapak dengan postur gemuk dan memakai kacamata. Bersama istrinya, ia tengah meladeni para pembeli.
“Ada buku-buku Enny Arrow, Pak?” tanya kami, lagi.
“Enggak ada,” jawabnya. “Udah lama (enggak ada). Saya baca tahun 1970-an itu. Cerita tentang seks itu, kan?” katanya.
“Engga ada cerita porno itu,” kata istri sang pedagang, menimpali. Kami pun berlalu setelah mengucapkan terima kasih.

Dari toko buku ke toko buku, dari pedagang ke pedagang, kami tanyakan pertanyaan yang sama. Jawaban mereka umumnya pun serupa, “Enggak ada.”

Baca Juga  Kekecewaan Djarot Lantaran Masih Banyak Warga yang Memotong Hewan Kurban di Trotoar

Lama kelamaan, kalimat “enggak ada” itu seperti mantra yang dirapalkan para pedagang untuk mengubur semangat kami ‘menemukan’ Enny Arrow–ini pencarian berdasarkan rasa penasaran murni karena editor kami (yang keras kepala) ingin tahu betul wujud fisik karya si Arrow.

Namun, kami mencatat ungkapan-ungkapan jamak dari para pedagang. Boleh jadi ungkapan yang memiliki nilai historis. “Enggak ada, itu sih buku udah seratus tahun lalu. Cerita seks gitu, kan. Enggak ada itu unsur sastranya,” kata pedagang dengan topi pet merah yang dipandang ‘senior’ oleh pedagang lainnya.

“Yang cerita dewasa itu kan? Enggak ada,” ucap pedagang muda dengan suara lantang yang mengundang perhatian. Dalam hati kami geregetan, “Yaelah Bang, enggak usah kenceng-kenceng juga kali ngomongnya.”

“Enggak ada. Udah lama itu, tahun 1970-an, 1980-an,” ujar pedagang kaki lima dekat toko buku Gunung Agung.

Beberapa kali kami malah disodori majalah dewasa. Menurut mereka, membaca Enny Arrow maupun majalah dewasa merupakan dua hal yang sama. Misalnya, ketika seorang pedagang berhasil membuat kami yakin bahwa dia memiliki buku-buku Enny Arrow.

Baca Juga  Parkiran Rumah Sakit yang Dipenuhi Mobil Terbakar di Gorontalo

Kami pun diminta menunggu di lapaknya, sementara dia mengambil buku itu di suatu tempat. Dia bilang satu buku harganya Rp 50.000. Hati kami sudah berbunga-bunga bisa mendapatkan buku Enny Arrow setelah berkeliling di bawah matahari yang melelehkan keringat dan menahan godaan jajan soto mie Bogor. Semangat!

Tapi, setelah si pedagang kembali dari pencariannya, “Yah, ini sih bukan Enny Arrow,” kata kami sedikit kesal karena kami malah dikasih lima buah majalah dewasa dengan gambar sampul perempuan seksi.

Pedagang berkaos putih kerah garis itu menyahut, “Sama aja cerita dewasa, mah. Enny Arrow atau ini sama saja.” Kami menghela napas panjang, lalu menolak tawarannya.

Kami meninggalkan Pasar Senen dan mencoba mencari Mbak Enny Arrow di Mal Blok M, Jakarta Selatan. Hasilnya tak jauh beda. “Enggak ada, kosong. Buku seks lain ada,” kata seorang pedagang muda sambil mengambil majalah dewasa untuk diberikan kepada kami.

Laman: 1 2 3 4

Loading...

Terpopuler


To Top