Loading...
KabarinAja

Karya Erotis Enny Arrow, Memorabilia Serpihan Pop Culture Masa Lalu Indonesia

foto-foto: google

kabarin.co – Namanya melegenda. Ketika zaman terus bergulir, kepopulerannya surut. Buku-bukunya menjadi koleksi orang-orang yang menjadikannya sebagai memorabilia: untuk mengenang kegagahan usia muda maupun pusaka yang barangkali dinilai tak ada duanya hingga saat ini.

Karya Enny Arrow memang fenomenal bagi generasi warga Jakarta yang mengalami kehidupan kota ini pada medio 1970 sampai 1990. Pasar Senen disebut sebagai ‘ibu kota’ kelahiran karya Enny Arrow.

Dari sinilah karya stensilan itu konon diproduksi dan melanglang buana dari tangan ke tangan, dari anak baru gede ‘putih-biru’ hingga dewasa.

Enny Arrow dikisahkan atau, karena kemisteriusan sosoknya bisa kita sebut, digosipkan menentang karya-karya sastra mapan yang berpihak kepada pemodal. Itu sebabnya dikatakan hingga kematiannya pada 1995, ia menolak karya-karyanya dijual di toko buku besar.

Namun, belum tentu pusaka ‘kejayaan anak muda’ sekitar 30 sampai 40 tahun lalu itu masih ada yang tersisa di pedagang buku kecil di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Disadur dari kumparan.com yang menuliskan bermodal keberuntungan, mencoba mencari karya Enny Arrow di kompleks ‘real estate’ lapak buku tersebut.

Baca Juga  Viral! Video Polisi Bicara Kasar Gara-gara Gagal Dapat Duit Rp 150 Ribu dari Pengendara

Deru suara knalpot MetroMini yang berbaris di terminal menyambut kedatangan kami di deretan toko buku, lengkap dengan bau asap buangan bahan bakar fosil yang ditentang para aktivis ‘hijau’. Orang-orang berjalan ke sana kemari, berdiri di depan deretan toko buku.

Interaksi sosial yang lumrah terjadi antara penjual dan pembeli buku, terdengar seperti suara dari tape yang diulang-ulang. Di bawah atap terpal dan asbes, yang disusun sekenanya melindungi buku-buku dan orang-orang dari panas matahari yang melambung di atas ubun-ubun, geliat pasar itu hidup.

“Boleh Bang, cari buku apa Bang?” ujar beberapa pedagang yang menunggu lapaknya saat kami berjalan melaluinya.

Kalau kami tidak memerhatikan wajah pedagang yang menawarkan, barangkali kami sulit mengingat wajahnya. Sebab struktur kalimat tersebut menjadi ‘milik bersama’ para pedagang.

Ujaran tersebut bisa seketika menjadi anonim: milik semua pedagang tetapi sekaligus bukan milik seorangpun. “Enny Arrow ada, Pak?” kata kami menjawab saat berhenti di lapaknya yang penuh dengan buku yang ditumpuk dan dibariskan.

Baca Juga  Sandiaga Uno Terlihat Memakai Lip Balm Saat Wawancara, Fotonya Jadi Viral

“Wah, enggak ada itu. Udah lama banget enggak ada,” balas laki-laki berbaju hijau itu.

“Itu dulu kami baca waktu sekolah. Mau laki-laki, mau perempuan, baca sembunyi-sembunyi di sekolah. Di pojokan ruangan,” sahut pedagang lain bertubuh kurus yang sedang berdiri di dekat kami. Usianya sekitar 50-an. Ia malah menawarkan kepada kami buku-buku karya Fredy S.

Enny Arrow dan Fredy S. memang kerap dimasukkan ke dalam kategori yang sama, baik secara penggalan waktu kepopuleran karyanya, maupun secara genre.
Ah, ingatan memang artefak tiada duanya. Pedagang itu mengajak kami membedah ingatan tentang Fredy S.

Seperti halnya Enny Arrow, nama Fredy S. juga dikenal luas pada kurun 1980-an dan 1990-an. Dia penulis produktif dengan ratusan karya. Di toko buku itu saja, kami menemukan setidaknya 10 buku buah karya Fredy S.

Historia, situs majalah sejarah di Indonesia, mencatat Fredy S. merupakan nama pena dari Eko Siswanto. Ia lahir di Semarang pada 5 Mei 1954. Sebelum menjadi penulis novel populer, Fredy S. sempat menjadi komikus, pelukis poster film, dan beberapa cerita silat.

Baca Juga  Ini Dia Warga Bukit Duri yang Terlambat Tempati Rusun Rawa Bebek

Sumber itu bahkan menyebut karya-karya Fredy S. bukan cuma diterbitkan di Indonesia, tetapi sampai ke tanah seberang, yakni Malaysia dan Singapura.
Penulis yang bisa memproduksi dua hingga tiga judul novel dalam sebulan itu menyebut dirinya sebagai “sastrawan kaki lima”.

Novel pertamanya terbit pada 1978 berjudul ‘Senyummu Adalah Tangisku’. Kisah roman tentang seorang anak muda dari keluarga pengusaha tersebut bahkan dijadikan film layar lebar dua tahun kemudian.

Namun identitas Fredy S. tidak pernah diketahui. Nah, mirip dengan Enny Arrow yang juga misterius, bukan?

Pegiat literasi Muhidin M. Dahlan, seperti ditulis dalam situs Radiobuku, menyebut Fredy S. sebagai salah satu penulis misterius di Indonesia.

“Saya memasukkan Fredy S. dalam deretan manusia misterius karena nyaris semua yang menggandrungi roman yang ditulisnya, tak pernah tahu siapa dan di mana penulis ini berada,” tulis Muhidin.

Laman: 1 2 3 4

Loading...

Terpopuler


To Top