Loading...
Tokoh & Sejarah

Perempuan Indonesia dalam Pusaran Politik bag 1

cp: suaramerdeka.com



kabarin.co – Kedudukan perempuan dalam kebudayaan Indonesia mempunyai banyak segi. Tak bisa diidentikkan dengan satu tipe. Ini terjadi karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku. Dalam suku Minangkabau, di Sumatera Barat, misalnya perempuan mempunyai peran yang dominan dibandingkan laki-laki, sehingga perempuan lebih berhak mendapat hak warisan di bandingkan laki-laki. Dalam hal perkawinan, perempuan suku Minangkabau juga bisa ‘membeli’ laki-laki yang diinginkannya. Seorang laki-laki yang berpendidikan tinggi akan ‘dibeli’ mahal oleh perempuan Minangkabau.

Sistem matrilinear (garis ibu) dalam suku Minang memang mengejutkan. Karena justru suku di Sumatera bagian Barat itu terkenal dengan keteguhan memegang ajaran agama Islam. Bahkan dalam konsepnya terkenal motto “Adat bersanding Syara. Syara bersandung Kitabullah’’ Artinya adat harus sesuai dengan syariat agama dan syariat agama (Islam) harus sesuai dengan Holyqur’an.

Padahal ajaran Islam, dari tempat agama itu berasal di tanah Arab, terkenal dengan ajaran yang sangat kelaki-lakian. Zaman pada saat Nabi Muhammad lahir di tanah Arab, bagi suku/qabilah yang hidup di tempat itu adanya anak perempuan dianggap musibah, karena itu apabila ada anak perempuan yang lahir segera dibunuh. Karena dianggap akan menyusahkan keluarga itu. Memelihara anak-anak laki-laki dalam masa itu di tanah Arab  dianggap merupakan investasi masa depan. Karena laki-laki bisa segera bekerja menghasilkan nafkah membantu keluarga. Berbeda jika memiliki anak perempuan, hanya bisa dipelihara sampai tiba waktunya diambil oleh (dikawin). Belum lagi resiko yang akan ditanggung bila anak perempuan itu tak ada yang mau mengawini karena cacat atau kekurangan lainnya, dan mengalami perkosaan.

Tapi , hanya jarak sepelemparan batu masih di Pulau Sumatera, tepatnya di Sumatera Utara, lebih khusus lagi suku Batak, yang kebanyakan beragama Kristen, justru  sangat kuat garis ayah (patrilinear). Hanya anak laki-laki yang diakui dan berhak memakai nama bapak atau garis keturunannya (marga). Di tempat lain, masih di Indonesia, walaupun dalam peri kehidupannya menganut garis kebapakan, tetapi perempuan lebih dominan sebagai tulang punggung pencari nafkah keluarga. Misalnya, suku di Pulau Bali, perempuannya pergi mencari kerja, sedangkan laki-laki pekerjaannya hanya bermain judi sabung ayam atau berleha-leha di rumah menjaga anak. Indonesia memang sebuah negara yang unik, yang terdiri dari banyak suku, agama dan kepercayaan.

Namun, arus besar dalam masyarakat Indonesia, menunjukkan perempuan menjadi orang pinggiran, warga negara kelas dua, dibandingkan laki-laki. Baik karena dominannya agama Islam, juga karena dominannya suku yang menganut garis keturunan kebapakan. Tak heran kebanyakan  pahlawan nasional adalah laki-laki, justru pahlawan dari Aceh yang menjadi pahlawan nasional kebanyakan perempuan. Memang sejak zaman sebelum Indonesia merdeka, para perempuan Aceh melawan secara fisik usaha-usaha penjajahan, seperti yang datang dari Inggris, Portugis dan Belanda. Itu karena para lelaki, telah kalah dan menyerah ke tangan para penjajah, mereka meneruskan perjuangan itu, melawan secara gerilya di hutan atau tangkas di laut seperti Keumalahayati di abad 17 yang menjadi pemimpin wanita di laut melawan pelaut Portugis yang akan menyerang Aceh.

Namun, setelah Indonesia merdeka, perempuan semakin tersisihkan perannya dalam panggung politik, maupun sebagai penentu kebijakan bangsa. Sehingga setiap putusan politik yang diambil, selalu bias gender dan mempersempit ruang gerak perempuan. Selama Presiden Soeharto berkuasa (1965-1998-sering disebut sebagai orde baru untuk membedakan orde lama pimpinan Presiden Soekarno) pemberdayaan perempuan ini diwarnai dengan pembisuan dan kooptasi organisasi-organisasi perempuan serta seluruh organisasi independen lainnya. Bercokolnya lembaga Dharma Wanita atau PKK yang mengkoordinir karya perempuan pada masa orde baru menjadi saksi adanya kooptasi rezim orde baru dalam melanggengkan domestifikasi perempuan.

Tulisan: Ahmad Taufik – Senior Journalist

Bersambung

Perempuan Indonesia dalam Pusaran Politik bag 2

 








loading...

 

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top