Loading...
Opini

Penistaan Al Maidah dan Hidangan Politik Jokowi

Pasca aksi besar umat Islam 411 yang jumlah massa nya di luar perkiraan Intelijen, Jokowi melakukan manuver dengan kunjungan ke berbagai pemimpin parpol, ormas Islam mainstream, bahkan pasukan elit TNI.

cp: ilustrasi tribunnews



kabarin.co – Pasca aksi besar umat Islam 411 yang jumlah massa nya di luar perkiraan Intelijen, Jokowi melakukan manuver dengan kunjungan ke berbagai pemimpin parpol, ormas Islam mainstream, bahkan pasukan elit TNI. Terakhir kali adalah Jokowi mengundang beberapa pemimpin parpol ke Istana dengan menyajikan hidangan makan.

Disengaja atau tidak, situasi politik yang dimulai dengan penistaan agama pada surah Al Maidah (yang artinya Hidangan) masih berlanjut dengan mempertontonkan hidangan di istana. Percaya atau tidak, kekuatan langit sepertinya ingin umat Islam menyaksikan mukjizat dari surah Al Maidah. Mukjizat yang telah terbukti adalah jumlah massa yang hadir dalam aksi besar 411 yang belum pernah terjadi dalam sejarah demonstrasi kepada penguasa di Indonesia.

Makna surah Al Maidah bukan sekedar hidangan saja. Ini adalah kisah pengikut nabi Isa putera Maryam, setelah berpuasa 30 hari, ketika akan berbuka puasa di ujung bulan, mereka meminta Nabi Isa untuk memohon kepada Allah menurunkan hidangan dari langit. Sekali lagi, hidangan yang benar-benar turun dari langit, bukan hidangan yang tiba-tiba muncul di atas meja. Ini adalah bentuk bagaimana umat nabi Isa ingin lebih meyakini Allah yang maha Esa.

Makna kasus penistaan Al Maidah bagi Umat Islam

Tuntutan umat Islam atas penistaan agama terkait surah Al Maidah ini tidak sekedar melakukan tuntutan hukum semata. Lebih dari itu, tuntutan hukum yang berwujud dalam suatu gerakan besar ini mempunyai dua makna.

Pertama adalah makna sosio-kultutal. Ketika umat Islam menuntut Ahok ditangkap, maka sesungguhnya umat Islam sedang menunjukkan penolakan kepada Ahok untuk menjadi gubernur DKI. Persoalan hukum adalah suatu kepastian hukum yang harus diterima Ahok, tetapi persoalan kepemimpinan dalam kehidupan umat Islam adalah persoalan lain di mana umat Islam juga tidak bisa lagi menerima cara-cara memimpin Ahok. Menurut Vigotsky, jalan pikiran seseorang dapat dikenali dengan cara menelusuri asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial (aktivitas dan bahasa yang digunakan) yang dilatari sejarah hidupnya.

Kedua adalah makna kontekstual dan situasional. Dalam perspektif ini, sangatlah tidak mungkin melihat seorang Ahok tanpa mempertimbangkan kolaborasi orang-orang penting di lingkungannya. Umat Islam melihat bahwa Ahok sebagai representasi China overseas yang ingin menguasai Jakarta melalui berbagai proyek, salah satunya reklamasi. Tuntutan hukum agar Ahok ditangkap bukan sekedar menolak Ahok menjadi gubernur DKI tetapi juga menunjukkan bahwa umat Islam sedang menolak hegemoni asing dalam kehidupan bangsa. Menolak penguasaan asing atas aset-aset ekonomi, lembaga hukum, media bahkan pengaruh asing dalam POLRI-TNI.

Makna hidangan politik Jokowi

Ketika Jokowi mengundang Megawati dan Suryapaloh bergantian ke istana dan mempertontonkan makan hidangan kepada seluruh rakyat Indonesia, rakyat akan bertanya beginikah cara pemimpin saat menghadapi permasalahan besar bangsa? Apa maksud harus disiarkan ke publik sesi makan hidangan ini? Tidakkah cukup dengan sampaikan ke publik hasil pertemuan dalam bentuk solusi?

Barangkali lingkaran istana juga tidak tahu apa makna hidangan politik Jokowi ini. Atau barangkali Jokowi pun tidak tahu makna hidangan politiknya sendiri. Atau barangkali hanya Tuhan yang tahu makna hidangan politik Jokowi, seperti hal nya Tuhan tahu mengapa Jokowi tidak mau menemui para wakil ulama saat datang ke Istana pada aksi besar 411. Tetapi di luar semua alasan spiritual itu, sebagai manusia (pemimpin), melalui hidangan politik ini, Jokowi telah mempertontonkan bahwa ia tidak memiliki sensitivitas pada krisis bangsa yang setiap saat dapat menghancurkan NKRI. Alangkah eloknya hidangan politik itu diberikan kepada para ulama yang datang pada aksi besar 411, bukan kepada para pemimpin parpol yang menjadi pendukung Jokowi.








loading...

Benar setiap jaman ada pemimpinnya dan benar tiap pemimpin akan ada jamannya. Tetapi sejak dulu nilai dasar seorang pemimpin tidaklah berubah. Ia diharapkan memiliki integritas, visioner, berani mengambil dan menghadapi resiko, pemberi solusi dlsb. Kini rakyat melihat jelas bahwa Jokowi tidak memiliki syarat itu semua. Maka ketika pintu istana tertutup bagi rakyat, sementara Jokowi tetap asyik dengan hidangan politik bersama para elit parpol, maka jangan salahkan jika rakyat akan memaksa masuk istana dan membubarkan “pesta hidangan” Jokowi ini.

gde-siriana-2

Penulis : Gde Siriana (Soekarno Institute For Leadership)

Baca Juga:

Isu Makar Dari Kalangan Istana Sendiri

“Titik Temu Kekuatan Islam, Nasionalis dan TNI adalah Kembali ke UUD 45”

“Rakyat akan Turunkan Jokowi Jika Biarkan Ahok Jadi Duri Dalam Daging NKRI”

 

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top