Loading...
KabarUtama

Para Tokoh yang Gagal Maju pada Pilkada DKI 2017

m.tempo.co620 × 354


kabarin.co – Jakarta, KPU DKI Jakarta resmi menutup pendaftaran pasangan calun gubernur dan wakil gubernur pada Pilkada DKI Jakarta 2017, Dan sudah ada tiga pasangan calon yang mendaftar ke KPU DKI Jakarta.

Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDI perjuangan, Hanura, Golkar, dan Nasdem. Pasangan kedua yang mendaftar adalah Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni yang diusung Partai Demokrat, PPP, PKB dan PAN. Lalu disusul Pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang diusung Partai Gerindra dan PKS.

Di balik majunya tiga pasangan tersebut, ada sejumlah nama yang gagal mewujudkan keinginannya maju menjadi calon gubernur atau calon wakil gubernur pada Pilkada DKI 2017.

Mereka yang gagal maju adalah para tokoh yang sebenarnya sudah giat mensosialisasikan dirinya sejak jauh-jauh hari. Nama pertama adalah mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault. Rencana Adhyaksa untuk maju pada Pilkada DKI sudah muncul sejak September 2015, tepatnya dalam acara “Sinergi tokoh, sinergi umat mendaulat Adhyaksa Dault sebagai calon gubernur DKI Jakarta 2017-2022”, di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Minggu (20/9/2015).

Saat itu, ia didaulat oleh sejumlah tokoh untuk bisa maju pada Pilkada DKI 2017. Adhyaksa menyatakan siap untuk menjalankan amanat tersebut.

“Kalau saya diberi amanat, demi Allah tidak akan saya makan sepeser pun uang haram. Itu janji saya,” kata Adhyaksa ketika itu.

Nama lain yang juga gagal maju di Pilkada DKI 2017 adalah pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra. Rencana Yusril untuk maju pada Pilkada DKI muncul sejak awal 2016, tepatnya usai kakaknya, Yuslih Ihza Mahendra, mampu mengalahkan Bupati Petahana Belitung Timur yang juga adik Ahok, Basuri Tjahaja Purnama dalam Pilkada Belitung Timur 2015.

Usai kemenangan kakaknya di Belitung Timur, Yusril percaya diri bisa menjadi penantang Ahok. Ia pun mulai melontarkan berbagai gagasannya, salah satunya adalah melikuidasi Jakarta sebagai provinsi.

“Ke depan, Jakarta dilikuidasi. Tidak ada lagi gubernur. Tidak ada lagi DPRD. Yang ada adalah menteri urusan Ibu Kota, kemudian komisi urusan Ibu Kota, serta wali kota-wali kota saja,” kata Yusril yang berdialog selama hampir tiga jam. (EPR/kom)

Baca Juga:









loading...

Poros Baru Yusril Dianggap Tak Lebih dari Ambisi Personal

Yusril Dapat Dukungan dari PPP di Bawah Kepemimpinan Romahurmuzy

Belum Dapat Dukungan, Yusril Katakan Ada Ancaman Terhadap Parpol

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top