Loading...
Internasional

Obituary: Bhumibol Adulyadej, Raja Thailand yang Dicintai Rakyatnya Selama 70 Tahun Berkuasa

Bhumibol Adulyadej, Raja Thailand yang telah berkuasa selama 70 tahun. Kematiannnya ditangisi oleh jutaan rakyat negara itu. (foto;foto: BBC, guardian, reuters)

Kabarin.co – Pihak Kerajaan Thailand mengumumkan Raja Bhumibol Adulyadej wafat pada Kamis 13 Oktober 2016. Pemimpin monarkhi terlama di dunia itu menghembuskan napas terakhirnya pada usia 88 tahun setelah sebelumnya sejak pekan lalu ia mendapat perawatan akibat menderita gagal ginjal.

Bhumibol naik takhta pada 9 Juni 1946 menggantikan sang kakak, Raja Ananda Mahidol. Kala itu ia berusia 19 tahun dan tercatat menjadi raja ke-9 dari Dinasti Chakri atau dijuluki pula Raja Rama IX.

Ia berkuasa selama 70 tahun. Dan sepanjang monarkhi Thailand, sosok Bhumibol disebut sebagai satu-satunya raja terpopuler di kalangan rakyatnya.

rajo-0

Seperti dikutip dari Channel News Asia, Kamis (13/10) Raja Bhumibol meninggalkan seorang istri, Ratu Sirikit dan empat orang anak. Mereka adalah putra mahkota, Pangeran Maha Vajiralongkorn, Putri Ubol Ratana, Putri Maha Chakri Sirindhorn, dan Putri Chulabhorn Walailak.

Era Bhumibol dimulai ketika Thailand tengah dilanda masa-masa kritis menyusul perkembangan negara itu menjadi monarki konstitusional. Kehadirannya kala itu dianggap sebagai pemersatu bangsa, membangkitkan kembali semangat monarkhi yang dinilai telah lama ditinggalkan.

Baca Juga  Jadi Tahanan Kota, Dahlan Iskan Wajib Lapor Tiap Senin dan Kamis

Konstitusi Thailand menyebutkan, raja adalah kepala negara dan panglima angkatan bersenjata, namun ia juga memiliki sedikit kekuasaan di ranah politik. Faktanya pada hari ini, sosok Bhumibol adalah salah satu tokoh terkuat di negara itu. Ia merupakan pilar stabilitas utama yang terbukti mampu ‘menenangkan’ krisis politik berdarah di Thailand pada 1973 dan 1992.

Raja Bhumibol tak hanya dikenal dengan kalimat-kalimatnya yang memiliki pengaruh besar, namun juga kebijakan-kebijakannya juga sangat dihormati. Sementara gagasannya sangat mempengaruhi program pembangunan dan kehidupan rakyat Thailand.

Sepanjang memerintah, ia sangat dicintai dan dihormati rakyat Thailand. Bahkan mereka menganggap sosoknya sebagai ‘separuh dewa’. Foto-foto Bhumibol sangat mudah dijumpai di Negeri Gajah Putih, tersebar di mana-mana. Rakyat pun akan membungkuk dan berlutut saat ia muncul.

rajo-1

Kisah hidup Bhumibol disebut sebagai salah satu yang luar biasa. Ia lahir di Rumah Sakit Mount Auburn di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, dari pasangan Pangeran Mahidol Adulyadej dan Sangwal. Sang ibu berasal dari kalangan rakyat jelata.

Baca Juga  Buruh di Medan Ikut Gelar Demo Tolak Tax Amnesti Pajak

Ia tidak berada dalam daftar pewaris takhta. Namun insiden pada 1932 mengubah nasibnya. Revolusi tak berdarah kala itu mentransformasikan Thailand dari sebuah negara penganut monarkhi absolut menjadi monarkhi konstitusi.

Pertumbuhan kekuatan militer ketika itu menyebabkan turun takhtanya Raja Rama VII. Ia digantikan oleh kakak Bhumibol, Ananda.

Pada masa itu, sang ayah, Pangeran Mahidol telah berpulang. Sementara keluarganya memilih pindah ke Lausanne, Swiss. Bhumibol menghabiskan masa mudanya bersama sang ibu dan saudara-saudaranya di Lake Geneva.

Ia diketahui mempelajari sastra Prancis, Jerman dan Latin dan mengejar gelar sarjana di Lausanne University. Sosok Bhumibol senang dengan olahraga ski, berlayar, dan musik jazz.

Tak hanya sebatas itu kegemarannya pada dunia musik, sang raja pun diketahui dapat memainkan sejumlah alat musik seperti piano, saxophone, clarinet, dan trumpet. Bakat musiknya khususnya ketertarikan pada jazz membuat ia pernah beraksi sepanggung dengan musisi jazz besar seperti Benny Goodman, Lionel Hampton dan Benny Carter.

Baca Juga  Peristiwa Langka Ular Piton Kecanduan Sabu-sabu, Lho Kok Bisa?

Menyusul akhir Perang Dunia II, keluarga Bhumibol melakukan kunjungan singkat ke Thailand. Sesaat sebelum ia kembali untuk menyelesaikan pendidikannya di Lausanne, Raja Ananda wafat karena ditembak.

Kematian sang kakak membuatnya menjadi pewaris takhta ‘dadakan’ pada 1946. Ia disebut-sebut belum siap mengemban tugas baru.

Sang raja muda sempat kembali ke Eropa tepatnya Swiss untuk menyelesaikan studi. Namun ia beralih dari sastra ke ilmu politik dan hukum. Ini bagian dari persiapannya memimpin monarkhi.

Dalam sebuah kecelakaan, ia dilaporkan kehilangan penglihatan pada mata kanannya. Sementara di lain sisi, ia berhasil memenangkan hati Sirikit Kitiyakara, putri dari duta besar Thailand untuk Prancis kala itu.

Terdapat satu insiden yang begitu membekas di ingatan Bhumibol sebelum keberangkatannya ke Eropa. Hal itu ia tuangkan dalam buku hariannya.

“Di Jalan Ratchadamnoen Klang, orang-orang berdiri begitu dengan mobil yang aku tumpangi. Aku takut itu akan mencederai mereka. Mobil melintasi keramaian dalam kecepatan serendah mungkin sebelum akhirnya melaju kencang ketika berada di Kuil Benchamabophit.”

Laman: 1 2

Loading...

Terpopuler


To Top