Loading...
KabarEkonomi

Makin Digital, Bank Nagari Makin GAUL di Ujung Jari

Desrizal sedang menunjukkan aplikasi Nagari Mobile Banking di Ruangan Kantornya, Kamis (24/3). (Wahyu Saputra)

Kabarin.co, Padang – Panas berdengkang menyelimuti Kota Padang, Sumatera Barat, Kamis (24/3) siang itu. Pekerja kantoran sedang bergumul dengan segala deadline, hiruk-pikuk jalanan, masuk ruang ke luar ruangan, masuk kantor ke luar kantor.

Tapi tidak dengan Desrizal (45), yang terlihat santai di bawah pohon rindang samping kantornya. Dia hanya memegang sebuah gawai android dengan senyum sumringah, sambil menikmati secangkir kopi yang lima menit lalu dipesannya di kedai.

“Akhirnya masuk juga,” ucap Bang Des panggilannya, yang baru saja mengisikan paket data internet melalui aplikasi Mobile Banking di gawainya. Dia memang kerap menikmati waktu istirahat di tempat itu.

Sehari-hari, Bang Des berkantor di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar di kawasan Jalan Sudirman Kota Padang. Dia telah ditakdirkan menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak 2006. Kini, ditempatkan sebagai bendahara di BPBD Sumbar sejak 2013 lalu.

Sambil menyeruput kopi hitam yang tersisa dalam gelas siang itu, dia menceritakan, ini kedua kalinya menjadi bendahara di BPBD Sumbar. Pertama, awal 2015 hingga akhir 2016. Kemudian, sejak 2019 dia kembali ditempatkan ke jabatan fungsional bendahara hingga sekarang.

Baca Juga  Terpengaruh Persediaan Minyak AS, Harga Minyak Dunia Turun

Selaku bendahara, sudah pasti tugasnya tidak jauh dari masalah anggaran, atau keuangan maupun pengadaan kebutuhan kantor untuk menunjang kinerja dan program kerja. Tentu, tugas yang diemban ini harus didukung dengan sistem yang mumpuni.

“Kalau dulu, pas jadi bendahara, semuanya manual. Misalnya, ada yang mau beli Alat Tulis Kantor (ATK), kita harus ke bank yang bersangkutan. Bolak-balik, habis waktu, melelahkan, dan tidak bisa santai seperti ini, karena kita harus antri di bank,” jelasnya.

Sebab masih manual, sebutnya, dia pernah membayar pajak pertambahan nilai (PPN) dengan uang pribadi atas pembelian ATK. Pasalnya, dalam pembayaran pembelian ATK yang dilakukan satu bidang program secara tunai, dan anggaran yang diajukan belum termasuk PPN.

“Rupanya nilai yang diajukan itu belum termasuk PPN, bagian program juga cuek, ya mau tak mau saya bertanggungjawab dengan duit pribadi,” ungkap suami Mitri Yeni itu.

Kini, lanjut pria tiga anak ini, semuanya sudah berubah, semuanya sudah dengan digitalisasi dan di ujung jari. Salah satunya, melalui aplikasi Nagari Cash Management (NCM) yang bisa mentransfer nilai dana kegiatan hingga di atas Rp100 juta tanpa harus ke bank yang bersangkutan.

Baca Juga  Dolar AS keok ke Rp 12.936 Berkat Tax Amnesti

Warga asal Pariaman yang terlahir di Kota Bengkulu ini merasakan betul perubahan digitalisasi yang dilakukan Bank Nagari. Selain efisiensi waktu, percepatan kinerja, sistem digitalisasi ini juga meminimalisir terjadinya penyelewengan anggaran saat pembayaran dengan perantara tertentu.

Kemudian, dia juga mengakui, sistem digitalisasi mengurangi risiko kejahatan. “Kalau secara tunai kan, bisa saja orang mengintai kita di jalan saat menyetor pembayaran di bank. Uang bisa hilang, nyawa bisa melayang. Kalau non tunai gak bakal seperti itu, jadi makin Gampang, Aman, Untung, Lancar, ya GAUL lah dengan kekinian,” selorohnya.

Kendati banyak kelebihan, digitalisasi memang juga memiliki kekurangan. Salah satunya, terkait jaringan internet yang lelet. Apalagi di awal bulan, banyak pihak yang mengakses aplikasi untuk pencairan dana, dan sebagainya, seperti bayar gaji, honor, atau surat perjalanan dinas (SPJ).

“Kalau kondisi seperti itu, uang sudah ter-debet, sementara di aplikasi gagal, sangat birisiko. Pernah terjadi seperti itu, uang tetap kembali, tapi kita harus melaporkan ke pihak bank, dan menunggu 14 hari kerja,” terangnya.

Baca Juga  Satelit Telkom1 Bermasalah, 8.000 Lebih ATM Ofline

Selain urusan kantor, rupanya Bang Des juga pengguna setia aplikasi Nagari Mobile Banking Seperti membayar tagihan air PDAM, tagihan listrik, token pulsa listrik, pulsa prabayar atau paket data internet, bahkan belanja secara online. Apalagi di tengah pandemi COVID-19 sangat dianjurkan jaga jarak interaksi, dan mengurangi mobilitas di luar ruangan.

“Saya beli paket data juga dari HP. Kalau tagihan bulanan saya Rp600.000 setiap bulannya. Saya bayar dengan Nagari Mobile Banking, karena semuanya ada di sana, bahkan kita bisa tahu jumlah tagihan yang harus dibayar sebelum tanggal 20 bulan depannya,” imbuhnya sembari beranjak kembali ke ruangannya.

Begitu pula yang dirasakan Yenni, salah seorang pegawai di Pemprov Sumbar, yang mengaku akrab bertransaksi melalui Bank Nagari. Apalagi, semenjak banyaknya layanan digitalisasi yang dibangun oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD) Ranah Minang itu.

Laman: 1 2 3

Loading...

Terpopuler


To Top