Loading...
Agribisnis

Kisah Sukses Pemilik Sawit yang Ubah Nasib Jadi Petani Hortikultura

Pada umumnya, lahan kosong akan disulap menjadi perkebunan kelapa sawit yang dianggap lebih ekonomis. Tapi berbeda dengan petani yang satu ini. Dia justru terbalik, dari lahan sawitnya diubah menjadi lahan pertanian hortikultura atau ladang sayuran di Riau.

kabarin.co – Siak, Pada umumnya, lahan kosong akan disulap menjadi perkebunan kelapa sawit yang dianggap lebih ekonomis. Tapi berbeda dengan petani yang satu ini. Dia justru terbalik, dari lahan sawitnya diubah menjadi lahan pertanian hortikultura atau ladang sayuran di Riau.

Suryono (40) itulah nama lengkap petani warga Dusun Suka Jaya, Desa Pinang Sebatang Barat Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau. Ayah tiga anak ini, memiliki lahan 2 hektare (ha) yang dulunya dia tanami perkebunan sawit.

Akan tetapi, pria yang tekun ini justru tidak ingin berlama-lama menjadi petani kelapa sawit. Dengan tekatnya, dia mengubah lahan sawitnya yang telah berumur 10 tahun menjadi lahan pertanian holtikultura.

Di lahan 2 ha itu, secara perlahan dia jadikan lahan pertanian seperti bayem, kacang panjang, terong, pepaya, dan melon. Dia ini tergolong nekat, mengubah lahan pertanian kelapa sawit menjadi hortikultura yang jarang dilakukan masyarakat.

Untuk mengubah itu semua, memang harus ditempa kesabaran. Sebelum mengubahnya, terlebih dahulu pria ini ikut dalam pelatihan pertanian hortikultura yang dilakukan PT Arara Abadi Forestry perusahaan bergerak bidang Hutan Tanaman Industri (HTI) di bawah PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) di Riau di bawah kelompok Sinar Mas Group.

“Mendapat pelatihan, penyuluhan serta pendampingan pemasaran bersama perusahaan, saya mencoba untuk mengubah keberuntungan nasib. Alhamdulilah, lebih baik jadi petani sayuran dari pada petani sawit,” ujar pria ini.

Jika selama ini memiliki lahan sawit 2 ha, Suryono memang bisa memanen sebulan dua kali. Rata-rata dari lahan sawit dia hanya kerjakan sendiri untuk memanen dengan hasil 2 sampai 3 ton per bulan. Dengan harga sawit normal, dia bisa berpenghasilan maksimal Rp3 juta per bulan.

Tapi itu cerita dulu, di bawah tahun 2008. Kini dengan lahan yang sama, justru Suryono bisa membawa para tetangganya untuk ikut bekerja di ladang sayurnya. Ada 9 orang pekerjanya baik yang dibayar bulanan atau mingguan yang saban hari bekerja di ladangnya.

Rasanya tak masuk akal memang, lahan yang sama sampai mempekerjakan 9 orang. Tapi pria ini merincikan, dengan lahan 2 ha itu dia bisa membuat bedeng tanaman bayam dengan ukuran lebar 2,5 meter panjang 25 meter. Batasan itu dia petak-petak untuk tanaman bayam. Ada 9 bedeng atau petak khusus untuk bayam.

Dengan menabur bibit bayam, dalam waktu 15 hari sudah bisa dipanen. Untuk satu bedeng, untuk sekali panen bisa menghasilkan Rp600 ribu. Bayangkan saja, dia memiliki 9 bedeng tanaman bayam.
Ini belum lagi, sayuran kacang panjangnya, terong, timun, cabai, buah pepaya. Semua hasil sayuran ini dia jual langsung ke pasar. Harga yang dia tawarkan untuk satu ikat bayam minimal Rp1.500.

Untuk menunjang keberhasilan tanaman sayurnya, Suryono tidak menampik kalau dia mendapat bantuan dari Sinar Mas. Perusahaan ini membantu untuk membuatkan embung atau sumur. Air itulah yang saban hari disedot dengan mesin untuk menyiram tanamannya.

“Perusahaan memberikan bantuan membuatkan embung secara gratis. Namun begitupun saya meminjam modal tanpa bunga untuk modal membeli bibit,” kata Suryono kepada detikcom, Senin (18/7/2016).

Ada sekitar Rp4,1 juta dia diberikan modal. Uang itu dia jadikan modal untuk membeli bibit melon. Sayangnya, buah melon yang dia tekuni gagal panen. Ini karena cuaca ekstrem di Riau yang mempengaruhi hasil panennya.

Walau demikian, pria ini tak kapok. Dia tetap menekuni bidang pertanian sayuran. Kini di lahan 2 ha itu, dia bisa mendapatkan penghasilan Rp25 juta per bulan hanya dengan bercocok tanam sayuran.

“Dari jumlah itu, Rp9 juta untuk bayar pekerja, Rp5 juta beli pupuk, sisinya keuntungan. Saya bisa menyekolahkan tiga anak saya,” kata Suryono.

Suryono pun kini mengajak teman-temannya untuk beralih menjadi petani sayur ketimbang kelapa sawit. Tapi memang katanya, tidak semudah itu untuk beralih, butuh proses yang lama.

Maklum saja, karena sudah bertahun-tahun lamanya, selama ini masyarakat bergantung pada hasil perkebunan sawit. Peluang pasar sayuran masih jauh lebih baik, dan kebutuhan sayuran terus meningkat.

“Saya dulu awalnya juga bingung apa iya bisa lebih baik jadi petani sayur dari pada sawit. Tapi setelah saya ikut pelatihan di perusahaan Sinarmas, kini hidup saya jauh lebih baik,” kata Suryono.

Padahal, Suryono ini dulunya adalah pemimpin demo ke perusahaan. Lahan miliknya memang berada di tengah-tengah kawasan HTI. Secara aturan, lahan itu masuk dalam perizinan perusahaan. Namun, Suryono cs selalu menolak untuk dipindah.

Karena terus berkonflik, akhirnya dilakukan pendekatan. Lahan yang dikuasi Suryono cs harus sesuai dengan aturan hanya boleh ditanami pohon kehidupan. Pohon kehidupan yang diatur pemerintah adalah, non kelapa sawit. Sayuran dan karet, diperbolehkan. Kini, upaya yang dilakukan perusahaan sudah membuahkan hasil, walau belum 100 persen.

“Masih ada lahan sawitnya namun butuh waktu untuk memberikan pengertian kepada kelompok petani saya,” kata Suryono sekaligus Ketua Kelompok Tani Jaya.

Di desa ini, ada 770 ha lahan yang dilakukan pendampingan oleh perusahaan. Lahan seluas itu harus menjadi lahan pertanian kehidupan yang tentunya non sawit. Inilah peran perusahaan dalam menjalankan aturan yang telah ditetapkan pemerintah untuk masyarakat yang berada di areal konsesi perusahaan. (det)

Baca Juga:

RUU Pertembakauan Harus Lindungi Kedaulatan Petani

Gagal Panen Padi Puso,Petani Majalengka Mencoba Menanam Bawang dan Ubi Jalar

Petani Puas Pupuk Indonesia bidik penjualan Rp 77 triliun

Loading...

Terpopuler


To Top