Loading...
Nasional

Kapolda Jatim Salahkan Kapolres Soal Pendataan Ulama

kabarin.co –Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur, Inspektur Jenderal Polisi Machfud Arifin menegaskan kembali, bahwa pendataan para kiai dan ulama dimaksudkan untuk tujuan silaturrahmi, bukan yang lain. Meski sudah dilakukan tabayun, rupanya sebagian kalangan terus memelintir isu tersebut sehingga masih menimbulkan keresahan di masyarakat.

Bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, Abdusshomad Buchori, Kapolda Machfud menjelaskan, bahwa sebetulnya instruksi pendataan para kiai itu bukan seperti dipikirkan secara negatif banyak orang. Sejatinya, lanjut dia, surat instruksi itu ditujukan kepada para Kepala Kepolisian Resor agar ditindaklanjuti secara langsung kepada para kiai dan ulama di daerah masing-masing.

Rupanya, terjadi kekeliruan pemahaman beberapa Kapolres dalam menyikapi surat perintah pendataan kiai dari Kapolda. Bahkan, ada di salah satu daerah yang surat pendataannya disampaikan melalui anggota di lapangan dan dititipkan melalui pos penjagaan pesantren, bukannya secara langsung kepada kiai atau ulama yang dituju. Akibatnya surat bocor dan ditafsiri yang tidak-tidak.

“Itu anggota (yang menitipkan surat kepada kiai melalui santrinya). Sebetulnya itu hanya ditujukan ke Kapolres yang menjalankan surat tersebut. Tahu tidak Kapolres dengan kiai paling sepuh, misalnya, di Kediri. Harus tahu Kapolresnya. Jadi, menurut saya Kapolresnya teknisnya yang salah. Jadi, harap dimaklumi,” kata Machfud usai salat Isya berjemaah di Masjid Al Akbar Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 4 Februari 2016.

Mantan Kepala Divisi Teknologi Informasi Markas Besar Polri itu membantah istilah pendataan seperti ramai dibicarakan di media sosial. “Saya sebagai Kapolda Jatim hanya ingin tahu. Kalau berkunjung ke Polres, misalnya, saya tahu kepada kiai siapa harus sowan. Nawaitu silaturrahmi, tapi mungkin caranya yang salah. Jangan dipelintir-pelintir lagi,” ucap Machfud.

Ketua MUI Jatim, Abdusshomad Buchori, mengaku sudah menerima tabayun dari Kapolda Jatim soal heboh pendataan kiai tersebut. “Saya sudah bersama Bapak Kapolda bahwa (pendataan kiai) memang sengaja dilakukan untuk kepentingan silaturrahim. Jadi, misalnya, ada kedatangan Kapolri, Kapolda, agar tahu saja siapa namanya, alamatnya dimana, kalau ngirim undangan agar tidak salah,” ujarnya menjelaskan.

Abdussomad menyikapi bahwa pendataan itu sebagai ta’aruf atau cara perkenalan yang dilakukan oleh Kapolda Jatim dengan ulama dan kiai. “Enggak ada masalah, engg ada ada sesuatu yang dipermasalahkan. Nanti akan saya sampaikan juga kepada para ulama. Jadi, tidak perlu resah pendataan dilakukan akan diapa-apakan. Hanya untu kemudahan silaturrahim saja,” ujarnya menambahkan.

Heboh pendataan kiai terjadi di dunia maya sejak Kamis, 2 Februari 2017. Foto surat daftar nama kiai yang akan didata dari Kepolisian tersebar di media sosial. Netizen bertanya-tanya tujuan dari pendataan tersebut, karena dilakukan oleh Kepolisian. Bahkan, ada yang mengait-kaitkan pendataan itu dengan peristiwa kelam masa PKI dahulu yang memakan banyak korban kiai kampung. (msi/viv)

Baca Juga:

MUI Jatim: Ulama Tidak Perlu Takut, Pendataan Buat Silahturahmi

Ribuan Warga Palembang Tak Terima Ulama Dihina dan Melakukan Aksi Demo Bela Ulama

Pagi Ini Kapolda Jatim SiapBerkumpul Bersama Ulama Se-Madura

Loading...

Terpopuler

To Top