Loading...
Opini

Jatuhnya Penguasa, Pelajaran Bagi Rezim yang Berkuasa

kabarin.co – Jakarta, 21 tahun yang lalu tepatnya tanggal 21 Mei 1998, Soeharto lengser dari jabatannya sebagai Presiden Indonesia. Mundurnya Soeharto itu menandai berakhirnya pemerintah era orde baru (Orba) yang sudah bekuasa 32 tahun lamanya.

Sebelum dia mundur, Indonesia mengalami krisis politik dan ekonomi dalam 6 sampai 12 bulan sebelumnya. Ini merupakan salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia. Dimana masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai era Reformasi dan lengsernya kekuasaan rezim Orba.

Jatuhnya Penguasa, Pelajaran Bagi Rezim yang Berkuasa

Kejatuhan Soeharto saat itu seolah-olah melengkapi peristiwa pergantian pucuk kepemimpinan nasional yang tidak berjalan mulus karena menyisakan luka. Sebelumnya Presiden Indonesia pertama yaitu Soekarno juga jatuh diawali dengan meletusnya peristiwa G 30 S PKI tahun 1965.

Mengapa 2 pemimpin besar Indonesia itu dilengserkan dari kursi kekuasaannya ?, Pelajaran apa yang bisa dipetik oleh Jokowi sebagai Presiden yang sekarang berkuasa di Indonesia ?

Kejatuhan Soekarno dan Soeharto

Situasi politik Indonesia pada tahun 1965 itu menjadi tidak menentu setelah enam jenderal dibunuh dalam peristiwa yang dikenal dengan sebutan Gerakan 30 September atau G30S PKI yang jenazahnya kemudian ditemukan di lubang buaya.

Baca Juga  MANAJEMEN BISNIS UNTUK PERTANIAN INDONESIA

Pelaku sesungguhnya dari peristiwa tersebut sampai sekarang masih merupakan kontroversi walaupun PKI dituduh terlibat di dalamnya. Akibatnya beberapa elemen masyarakat seperti massa dari KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) melakukan aksi demonstrasi dan menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat (Tritura) yang salah satu isinya meminta agar PKI dibubarkan dari bumi Indonesia.

Namun, Soekarno menolak untuk membubarkan PKI karena dianggap bertentangan dengan pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme), ideologi yang diusungnya. Sikap Soekarno yang menolak membubarkan PKI kemudian melemahkan posisi politiknya.

Lima bulan kemudian, Soekarno menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret yang ditujukan kepada Soeharto yang isinya perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk mengambil tindakan yang perlu guna menjaga keamanan pemerintahan dan keselamatan pribadi Presiden Indonesia.

Surat tersebut lalu digunakan oleh Soeharto yang telah diangkat menjadi Panglima Angkatan Darat untuk membubarkan PKI dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang di Indonesia.

Baca Juga  Banjir Tak Hilang dan Lingkungan Jadi Hancur Akibat Ahok Normalisasi Sungai

Kemudian MPRS pun mengeluarkan dua Ketetapannya, yaitu TAP No. IX/1966 tentang pengukuhan Supersemar menjadi TAP MPRS dan TAP No. XV/1966 yang memberikan jaminan kepada Soeharto sebagai pemegang Supersemar untuk setiap saat menjadi presiden apabila presiden berhalangan dalam menjalankan tugasnya.

Soekarno kemudian membawakan pidato pertanggungjawaban mengenai sikapnya terhadap peristiwa G30S pada Sidang Umum ke-IV MPRS tanggal 22 Juni 1966. Pidato tersebut berjudul “Nawaksara”.

MPRS kemudian meminta Soekarno untuk melengkapi pidato tersebut. Pidato “Pelengkap Nawaksara” pun disampaikan oleh Soekarno pada 10 Januari 1967 namun kemudian ditolak oleh MPRS pada 16 Februari tahun yang sama.

Hingga akhirnya pada 20 Februari 1967 Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Dengan ditandatanganinya surat tersebut maka Soeharto de facto menjadi kepala pemerintahan Indonesia.

Setelah melakukan Sidang Istimewa maka MPRS pun mencabut kekuasaan Presiden Soekarno, mencabut gelar Pemimpin Besar Revolusi dan mengangkat Soeharto sebagai Presiden RI hingga diselenggarakan pemilihan umum berikutnya.

Baca Juga  "Rakyat akan Turunkan Jokowi Jika Biarkan Ahok Jadi Duri Dalam Daging NKRI"

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penyebab jatuhnya Presiden Soekarno karena dianggap gagal menangani peristiwa Gerakan 30 September dan dampak-dampaknya.

Peristiwa Gerakan 30 September menyebabkan terbunuhnya perwira di TNI AD, dan menimbulkan krisis politik, membuat MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) melakukan Sidang Istimewa.

Demikianlah catatan sejarah yang biasa kita temukan dalam peristiwa jatuhnya Soekarno atau tumbangnya orde lama. Kiranya banyak versi cerita yang kadang kadang membuat kita bingung juga menyikapinya.

Menurut putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri, ayahandanya dilengserkan oleh Soeharto yang kemudian menjadi presiden kedua Indonesia. Ketum PDIP ini pun mempertanyakan mengapa belum adanya tim khusus yang menginvestigasi pelengseran ayahnya.

“Saya heran kenapa tidak ada yang melakukan penelitian kenapa ayah saya dijatuhkan. Itu karena kepentingan asing ingin masuk dan tidak bisa masuk. Pada waktu itu tak ada jalan lain selain Bung Karno harus dilengserkan,” ujar Megawati di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, sebagaimana dikutip merdeka.com Selasa (27/5).

Laman: 1 2 3 4 5 6

Loading...

Terpopuler

To Top