Loading...
KabarTekno

Ilmu Geografi dan Ilmu Astronomi Dalam Peradaban Islam




kabarin.co, JAKARTA – Masyarakat di Peradaban Muslim senang berpetualang dan belajar. Ada perkataan terkenal, “Carilah ilmu hingga ke negeri China”. Ahli geografi asal Palestina Al-Muqaddasi menjelajah nyaris setiap sudut dunia Muslim abad ke-10, membuat pengamatan dan mencatatnya.

Berkat jurnal yang ditulis para penjelajah dan ahli geografi Muslim, manusia bisa tahu seperti apa kehidupan di dunia Zaman Pertengahan. Al-Dimasyqi, ahli geografi abad ke-14, bercerita tentang kehidupan di kepulauan Melayu, di mana terdapat kota-kota yang dikelilingi hutan lebat.

Dalam catatan Al-Dimasyqi menyebutkan bahwa burung raksasa yang disebut al-Rukh dan Gajah Putih hidup di kepulauan Melayu. Bayangkan seperti apa rasanya pergi ke Mekkah dengan berjalan kaki atau naik unta tanpa peta. Itulah mengapa orang Muslim membutuhkan pengetahuan geografi dan astronomi.

Menurut Islam, semua orang mampu wajib berusaha menunaikan ibadah haji ke Mekkah, setidaknya sekali seumur hidup. Haji adalah kata bahasa Arab yang berarti “menuju ke suatu tempat”. Banyak Muslim memperluas pengetahuan geografi dengan menulis mengenai orang-orang dan tempat-tempat yang mereka lihat ketika mereka melakukan perjalanan haji.

Sejak abad ke-7 masyarakat telah melakukan perjalanan jauh dengan kuda, unta, atau berjalan kaki untuk beribadah haji. Para pedagang dan pelancong menulis beberapa penjabaran rinci mengenai China dalam bahasa Arab.

Selain itu, banyak penjelajah asal Eropa terkenal menggunakan peta dan informasi dari dunia Muslim. Tidak hanya menjelajah daratan, pedagang Muslim juga berlayar mengarungi samudera ke negeri asing, menemukan jalur pelayaran baru, seperti dirangkum dari “1001 Penemuan dan Fakta Mempesona Peradaban Muslim,”Kamis (24/11/2016). (okz)

Baca juga : 

Teknologi Pompa Air dalam Peradaban Muslim

Keren! Lemari Peyimpanan dengan Teknologi Kunci Bluetooth akan Dirilis








loading...

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler

To Top