Loading...
Nasional

Ibu Kota Terancam Gempa Bumi 8,7 SR, Ini Penjelasan BMKG



kabarin.co – Ketua Umum Ikatan Alumni Meteorologi Geofisika (Ikamega) Subardjo memprediksi Ibu Kota Jakarta terancam gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8,7.

Walaupun disebut akan serupa dengan gempa Aceh pada 2004 silam, tapi yang diwaspadai bukan tsunami, melainkan getaran gempanya.

Ibu Kota Terancam Gempa Bumi 8,7 SR, Ini Penjelasan BMKG

Menanggapi hal tersebut,  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati tak membantah sekaligus tak membenarkan kebenaran kabar tersebut.

Walaupun Menurut Dwikorita, kemungkinan ancaman gempa tersebut hingga saat ini masih dalam kajian.

Lantaran itu, ia pun mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap segala bencana alam, terutama gempa bumi.

“Sebab, Indonesia itu terletak di zona pertemuan lempeng tektonik aktif sehingga rawan terjadi gempa bumi,” jelasnya.

Ia mengatakan, masih ragu dengan adanya peneliti yang sudah bisa memprediksi terjadinya gempa.

“Tapi peneliti yang lain menganggap potensi itu kecil. Jadi ini bahan kajian yang belum ada kesimpulannya,” bebernya.

Menurut kajian BMKG sejauh ini, sambungnya, pihaknya belum mendapatkan kesimpulan sama sekali.

Tapi, ia menjelaskan, gempa thrust memang dipicu tumbukan lempeng tektonik di Samudra Hindia yang mengakibatkan gesekan antar-lempengan disusul adanya patahan (thrust).









loading...

“Saat itulah terjadi release energi, lewat batuan dan tanah yang kemudian dirasakan sebagai gempa,”

“Lalu maksimum 5 menit setelah gempa bumi, instrumentasi dan processing kami bisa menganalisis lokasi, magnitude, kedalaman, apakah berpotensi tsunami atau tidak. Dan 10 menit kemudian bisa memperbaharui data,” paparnya.

Dalam jarak waktu tersebut, akan lebih banyak sensor yang bisa mengirimkan informasi.

Itulah sebabnya, katanya, 2 jam setelah perkiraan datangnya tsunami menjadi perkiraan waktu setelah 5 menit pertama, menjadi durasi peringatan dini tsunami.

“Baru setelah dua jam tidak terjadi tsunami, peringatan akan diakhiri. Dan itu terjadi di manapun, di negara manapun,” katanya.

Dwikorita menambahkan, beradasarkan catatan BMKG, dalam satu tahun, setidaknya terjadi tak kurang dari 6.000 kali gempa di Indonesia.

Akan tetapi, kebanyakan dari gempa tersebut adalah gempa dalam skala kecl yang kekuatannya tak lebih dari 5 SR.

Sedangkan yang kekuatannya lebih dari 5 SR, jumlahnya sekitar 350 kali. Dan yang kekuatannya di atas itu ada sekitar 3, 4, atau 5 kali saja,” bebernya.

Lantas apa yang disarankan BMKG guna menyikapi kerawanan ini?

BMKG menyarankan adanya mitigasi demi menciptakan masyarakat terampil, cekatan, dan terlatih dalam menolong dirinya sendiri saat terjadi bencana.

Mitigasi bencana dimaksud, dinilainya sangat penting untuk meningkatkan self assistance dalam menghadapi bencana.

“Pasalnya, kepastian tidak ada. Karena memang bukti dan data belum cukup lengkap untuk pastikan itu akan terjadi,”

“Pentingnya mitigasi bencana itu sudah terbukti saat bencana gempa di Kobe, Jepang, pada 1995,” tandasnya. (epr/pj)

Baca Juga:

Waspada, Potensi Gempa Dahsyat Mengancam Banten dan Jakarta

Gempa 5,2 SR kembali Guncang Banten-Jakarta dan Sekitarnya

Peneliti ITB Prediksi Gempa 8,7 SR Berpotensi Guncang Selatan Pulau Jawa

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top