Loading...
KabarUtama

Husni Kamil Meninggal Karena Diracun?



kabarin.co – Ketua KPU Husni Kamil Manik baru saja telah dikebumikan di tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Jeruk Purut, Jakarta Selatan, Jumat (8/7). Namun masih ada pertanyaan yang menyisa di balik kematian anggota KPU Sumbar itu.

Seperti yang dikemukakan oleh Politikus Golkar Ali Mocthar Ngabalin. Dia ‎menemukan kejanggalan atas meninggalnya Ketua KPU Husni Kamil Manik. Hal itu dikemukakan melalui akun Facebook-nya

‎Ia memandang ada yang aneh dari wajah jenazah Husni yang dilihatnya saat melayat pada Rabu malam (7/7).

Saya menyaksikan wajah seperti ini seperti dahulu wajah yang pernah saya lihat setelah diotopsi ternyata yang bersangkutan mati karena diracun,” ujar Ngabalin dalam postingannya di media sosial, Facebook.

 

(Baca juga Pihak RS Diminta Jelaskan Penyebab Husni Meninggal Mendadak)

Bersama tulisan yang dipostingnya, diunggah pula wajah Husni yang tampak bersih menguning namun penuh dengan bercak merah‎ menandakan pembulu darah pecah.

Karena itu, pria kelahiran Fakfak, Papua Barat itu meminta agar jenazah Husni lebih baik diotopsi untuk membuktikan kecurigaannya

Atas nama demokrasi dan hak-hak manusia serta untuk mengungkap tabir di balik kematian sdr. Husni saya mengusulkan ada tim dokter ahli forensik yang independen untuk melakukan otopsi,” tegas Ngabalin.

‎Ia juga meminta agar negara mendukung otopsi jenazah pria lulusan Universitas Andalas (Unand) Sumbar itu.









loading...

Negara harus menaruh perhatian pada kematian sdr. Husni Kamil yang sungguh sangat mendadak berita kematiannya, seperti diliput dan menghiasi berita di berbagai media,” pungkas ketua umum Mubaligh se-Indonesia itu.

(Baca Juga : Penanganan Husni Kamil di RSPP tak Sesuai Standar Pejabat Negara)

Komisioner KPU Tak Yakin Dengan Postingan Ngabalin

screenshot ngabalin

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hadar Nafis Gumay tidak menyakini adanya bintik merah di wajah mendiang Ketua KPU Husni Kamil Manik, sebagaimana yang dituliskan Politikus Golkar Ali Mocthar Ngabalin, dalam postingan akun Facebook-nya.

“S‎aya lihat mukanya bersih tidak seperti yang diposting berbagai media sosial. ‎Kami semua komisioner tidak melihat seperti itu,” ‎ujar Hadar Nafis Gumay saat dihubungi JawaPos.com, Sabtu (9/7).

(Baca Juga: Husni Manik Meninggal dalam Keadaan Terlelap Menahan Radang)

Kendati demikian, lanjutnya, jika ada desakan untuk dilakukan otopsi terhadap jenazah Husni, Hadar mempersilahkannya. Akan tetapi langkah itu harus mendapatkan izin pihak keluarga almarhum.

“Itu bukan urusan komisioner lagi. Tapi urusan keluarga Pak Husni. Jika keluarga mengizinkan untuk dilakukan otopsi, silahkan saja,” pungkasnya.

Komisioner KPU lainnya, Ferry Kurnia Rizkiyansyah mengatakan, bahwa wajah jenazah mantan anggota KPU Sumatera Barat itu bersi‎h setelah dimandikan.

‎”Mungkin (foto itu) sebelum dimandikan. Sudah dimandikan bersih,” dalihnya.

KPU: Jangan Politisasi Kematian Husni

Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Hadar Nafis Gumay mengimbau sejumlah pihak jangan memunculkan komentar yang memunculkan adanya pemberitaan miring terhadap kematian mendiang Ketua KPU Husni Kamil Manik.

Apalagi hingga menyebut bahwa kematian Husni ‎berkaitan dengan pemilu presiden (Pilpres) 2014.

Apalagi ‎sekitar seminggu sebelum mantan anggota KPU Sumatera Barat itu meninggal, ada sebuah kuliah twitter (kultwit) yang dibuat oleh akun @ZaraZettiraZR. Postingan tersebut sempat menjadi viral di medsos.

Kultwit tersebut mengulas tentang peretasaan Sistim IT KPU pada Pilpres 2014 silam.

Husni Kamil Manik sempat menanggapi kultwit tersebut, dan mendukung untuk melakukan audit digital forensik mengenai dugaan peretasan tersebut.

Hadar Gumay mengatakan, gugatan sejumlah pihak atas hasil Pilpres 2014 lalu kepada KPU, khususnya Husni, tidak dapat dibuktikan dalam persidangan.

“Waktu itu dikasih ruang sengketa di pengadilan, baik di DKPP sampai ke MK (Mahkamah Konstitusi) tidak ada yang terbukti. Kenapa kita harus hidup seperti ini. Tidak ada gunanya‎,” kesalnya saat berbincang dengan JawaPos.com melalui sambungan telepon, Sabtu (9/7).

‎Ia melihat, ada yang mau memanfaatkan meninggalnya Husni dengan viral di sosmed itu.

“Saya baca di sosmed yang diangkat sesuatu yang tidak ada dasarnya, tetapi ingin memanfaatkan seseorang yang sudah meninggal dan mau dipolitisasi. Sebetulnya tidak ada gunanya,” tegas Hadar.

Dengan ada yang mengaitkan kematian Husni terhadap hasil Pilpres 2014, ia melihat ada pihak yang tidak puas terhadap hasil pemilu.

“Intinya kan ini ketidakpuasan terhadap hasil pemilu. Itu (hasil pemilu) sudah dibeberkan semua. Silahkan saja lihat mana kecurangan, mana manipulasi, semua data begitu terbuka,” jelasnya lagi.

Oleh karena itu, Hadar meminta agar tidak usah ada lagi pihak-pihak yang coba memolitisasi meninggalnya Husni.

“Berhentilah untuk bicara non sense. Sekarang ada orang meninggal mau dimanfaatkan. Itu perilaku yang tidak bijak. Berhentilah,” tegas Hadar.

(jpn)

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top