Loading...
Politik

Hendropriyono Usul Jabatan Presiden 8 Tahun




kabarin.co – Jakarta, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono mengusulkan agar ke depan jabatan Presiden dan Kepala Daerah hanya delapan tahun sehingga tidak ada lagi namanya petahana.

Usulan itu disampaikan Hendro kepada awak media setelah 
bertemu dengan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta pada Jumat (12/7).

Hendropriyono Usul Jabatan Presiden 8 Tahun

Menurut Hendro, perubahan tersebut diikuti dengan 
perubahan peraturan yang hanya mengizinkan seseorang menjabat sebagai presiden atau kepala daerah selama satu periode saja.

“Tenggat waktu presiden dan kepala daerah itu delapan tahun, tapi satu kali saja. Turun penggantinya nanti silahkan berkompetisi, tidak ada petahana,” kata Hendro.

Dia menilai hal itu akan membuat pemerintah dan rakyat menjadi kuat. Presiden atau kepala daerah pun, lanjutnya, akan lebih fokus dalam bekerja lantaran tidak terganggu jadwal kampanye karena berkompetisi di pilpres dengan status calon petahana.

“Jadi delapan tahun itu pemerintah kuat dan rakyat kuat. Tidak ada yang menggergaji pemerintah. Pemerintah tidak sewenang-wenang, tidak berkampanye, kerja saja delapan tahun yang betul,” kata eks Kepala Badan Intelijen Negara (Ka BIN) itu.

Mantan Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) itu mengaku usulan itu berangkat dari keprihatinannya melihat kondisi bangsa saat ini, terlebih ihwal biaya yang dihabiskan untuk pemilu yang kian lama kian bertambah.

Menurutnya, total biaya yang dikeluarkan negara untuk menyelenggarakan Pemilu 2019 telah bertambah lebih dari Rp20 triliun dibandingkan Pemilu 2004.

Menurutnya, rakyat justru menjadi pihak yang patut dikasihani bila DPR terus diam melihat fenomena peningkatan uang penyelenggaraan pemilu ini.

Fenomena ini, tambah Hendro juga bisa membuat Indonesia bangkut serta menjadi negara yang sakit di Asia.








loading...

“Kita melihat kecenderungan biaya untuk pemilu. Sejak 2004 kita menghabiskan uang negara Rp3 triliun. Kemudian pada 2009 itu kok menjadi Rp8 triliun. Pada 2014 menjadi Rp15 triliun. Di 2019 Rp25 triliun lebih. Ini gila,” kayanya. (epr/cnn)

Baca Juga:

Hendropriyono: Habib Rizieq dan Keturunan Arab Jangan Memprovokasi Revolusi!

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler

To Top