Loading...
KabarinAja

Gawat!! Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Sumbar Meningkat

Ilustrasi

Kabarin.co, Padang—Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Sumatera Barat semakin mengkhawatirkan. Rentetan kasus terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Perbuatan keji tersebut kerap dilakukan oleh orang terdekat korban, sehingga tidak ada lagi lingkungan yang benar-benar aman bagi perempuan dan anak.

Nurani Perempuan Women’s Crisis Center (NP WCC) sebagai pusat layanan bagi korban kekerasan berbasis gender mencatatkan bahwa kasus kekerasan pada perempuan dan anak meningkat pada tahun 2021.

Direktur Nurani Perempuan WCC
Rahmi Merry Yanti mengatakan, pada tahun 2020 pihaknya menangani 94 kasus sedangkan pada  2021 ada sebanyak 104 kasus.

Pada periode 2020 dan 2021 ini, kasus kekerasan seksual berada pada posisi tertinggi, yaitu tahun 2020 kasus kekerasan seksual sebanyak 59 kasus sedangkan 2021 sebanyak 55 kasus.

Baca Juga  Lewat Video ISIS Nyatakan Perang Terhadap RI dan Malaysia

Setelah kekerasan seksual ada kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang juga pada angka yang cukup tinggi, yaitu pada 2020 sebanyak 32 kasus sedangkan 2021 meningkat menjadi 47 kasus.

” Hal ini menggambarkan bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat sosialisasi primer bagi anak, namun malah menjadi pusat terjadinya kekerasan,” ujarnya saat rilis akhir tahun, Selasa (4/1).

Dari 55 kasus kekerasan seksual pada 2021 yang ditangani oleh Nurani Perempuan tersebut umumnya menyasar korban yang masih berusia muda.

Terdapat 37 kasus yang korbannya masih muda dan belia. Data tersebut dapat dirinci lagi dengan korban sebanyak 32 orang anak perempuan, 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuan disabilitas. Sedangkan sisanya sebanyak 18 kasus korbannya adalah perempuan dewasa.

Baca Juga  Dimaki Wanita Ngaku Anak Jenderal, Arteria Lapor Polisi

Untuk kasus KDRT sebanyak 47 kasus, 14 kasus korbannya adalah anak, 9 anak perempuan dan 5 anak laki-laki. Untuk kasus KDRT pada anak, bentuknya adalah fisik, psikis dan penelantaran sedangkan pelakunya adalah orang tua.

Merry membantah stigma yang beredar di masyarakat bahwa selama ini pelaku dan korban kekerasan merupakan mereka yang berasal dari kalangan berpendidikan rendah.

“Banyak orang berfikir bahwa kekerasan terjadi karena pendidikan masyarakat yang rendah, sehingga ada ketakutan untuk menolak terjadinya kekerasan,” tuturnya.

Data Nurani Perempuan menunjukkan bahwa para korban rata-rata sekolah dan berpendidikan tinggi, sebanyak 29 korban tamat SMA, 26 korban tamat SD, 20 korban tamat SMP, 16 korban S1, 8 korban belum sekolah, 3 korban D3, 1 korban SDLB dan 1 korban S2.

Ini menggambarkan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang bisa terhindar dari tindakan kekerasan berbasis gender.

Baca Juga  Gubernur Kalteng Pacari "Daun Muda" Wanita Kelahiran 1992

Merry menjelaskan kekerasan berbasis gender terjadi karena adanya relasi kuasa yang timpang antara perempuan dengan laki-laki ditambah lagi budaya patriarkhi yang mengakar sangat kuat di tengah-tengah masyarakat.

Sehingga para pelaku kekerasan dengan mudahnya membangun relasi yang tidak sehat sebagai modus dalam menguasai korbannya.

Dian, anggota Nurani Perempuan lainnya,  mengatakan kasus kekerasan berbasis gender belum seluruhnya menempuh jalur hukum. Dari 104 kasus yang dilaporkan ke Nurani Perempuan, sebanyak 28 kasus masuk proses hukum.

Kasus-kasus yang dilaporkan sepanjang tahun lalu sudah 4 yang menanti putusan pengadilan, 17 kasus masih proses dikepolisian, 2 kasus menunggu proses sidang, 3 kasus dalam proses sidang dan ada 2 kasus yang mandeg dikepolisian.(*)

Loading...

Terpopuler


To Top