Loading...
Metro

Disinilah Awalnya “Pembangkangan” Terhadap Ahok

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ngamuk di Rusun Marunda, Jakarta Utara, Kamis (4/9/2014). Basuki kesal karena virtual account Bank DKI hanya seperti kartu hotel.

kompas.com



kabarin.co — Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengaku sudah menerima ancaman pengunduran diri para pejabat DKI sejak dirinya masih menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Terhitung sudah ada enam pejabat eselon II yang mengundurkan diri sejak Ahok menjabat sebagai Wagub DKI.

“Kalau bilang kabarnya (pejabat) mundur sudah saya dengar sejak jadi Wagub,” kata Ahok di RPTRA Mawar, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Selasa (26/4/2016).

Beberapa waktu lalu, Ahok pernah membongkar upaya gertakan yang dilakukan internal Pemprov DKI kepadanya.

Nenek menangis di Rusun Marunda

Cerita berawal dari pertemuannya dengan seorang nenek yang menangis di Rusunawa Marunda. Kepada Ahok, nenek itu mengaku sudah meminta unit rusun sejak tiga tahun lalu, tetapi tidak juga diberikan oleh UPT Rusun Marunda.

Ahok pun mengurus permasalahan sang nenek. Pejabat UPT Rusun Marunda pun berjanji bakal memberi rusun kepada si nenek.

“Saya pergi cek kapal, sampai di Muara Baru sudah jam 6-an, harus nyeberang buat sampai rumah saya. Ajudan bilang, kita pulangnya naik mobil saja karena ada ombak besar. Wah, perasaan saya pasti ada yang enggak ikhlas nolong nenek itu,” kata Ahok.

Kembali ke Marunda, Ahok bertemu lagi dengan sang nenek. Namun, nenek itu masih belum juga didaftarkan mendapat unit rusun. Kata si nenek, pejabat UPT Rusun Marunda langsung pergi begitu saja.

“Saya bawa nenek ini ke pendaftaran. Sampai di situ, ada PNS, ada non-PNS di pendaftaran rumah susun. Semua lihatin saya, Kepala UPT-nya pergi,” kata Ahok kesal.








loading...

KOMPAS.com/Andri Donnal Putra Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi.

Tak ada yang mau memberi daftar penerima unit rusun kepada Ahok. Saking kesalnya, Ahok sampai meminta sang ajudan untuk mempersiapkan senjata jika perlawanan terjadi.

Keesokan harinya, Ahok meminta Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk memecat semua pejabat UPT Rusun Marunda. Kemudian, Ahok mengaku langsung didatangi oleh Novizal, yang ketika itu menjabat sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Jakarta.

“Pak Novizal datang dibawa sama Pak Putu (mantan Kepala Dinas P2B Putu Indiana) dan Pak Moko (mantan Asisten Sekda bidang Pembangunan Wiriyatmoko), bawa surat ke saya. Katanya Pak Novizal mau mengundurkan diri kalau semua (pejabat) UPT dipecat, itu tembusan ke gubernur,” kata Ahok.

“Katanya, ‘Kalau Bapak pecat, ini pejabat eselon II akan mundur semua’,” kata Ahok.

Kompas.com/Alsadad Rudi Mantan Kepala Dinas Tata Air DKI Jakarta Tri Djoko Sri Margianto usai acara pelantikan pejabat penggantinya, di Balai Kota, Kamis (3/12/2015)

Ternyata, lanjut dia, surat tembusan belum diterima Jokowi. Karena itu, ia menganggap hal ini sebagai gertakan dari anak-anak buahnya. Akhirnya, Jokowi mengizinkan Ahok memecat para pejabat UPT Rusun Marunda.

“Dari dulu saya digertak. Saya justru, (PNS) mogok semua saja, biar hemat gaji,” kata Ahok.

Novizal pun menjadi pejabat eselon II pertama yang mengundurkan diri, disusul oleh mantan Sekretaris Daerah Fadjar Panjaitan, mantan Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin, mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Energi Haris Pindratno, mantan Kepala Dinas Tata Air Tri Djoko Sri Margianto, dan Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi.

Entah kebetulan atau tidak, banyak pejabat mengundurkan diri setelah terlibat perbedaan pendapat dengan Ahok. (kom)

 

Bagaimana pendapat anda?

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Loading...

Terpopuler

To Top