Loading...
KabarSport

Closing Features: Givan, Sayyid, dan Finan, Mau Kemana Anda Setelah MKC 2017?

foto: ilustrasi



Penulis: Rizal Marajo 

Namanya Givan Ainul, tahun ini baru tamat SMA. Remaja ini punya cita-cita jadi pemain sepakbola hebat. Fisiknya bagus, postur tinggi, atletis, dan dirasa sangat cocok dengan posisi center bek yang digandrungi anak Sungayang ini. Bakatnya kalau diasah dengan benar, diyakini dia akan menjadi pemain bagus.

Dia satu dari sekian banyak anak kampung yang mencoba meraih mimpi di sepakbola. Mengandalkan skill alami dan sedikit polesan pelatih lokal. Pastinya masih minim sentuhan ilmu kepelatihan sepakbola terkini. Tapi sejatinya anak muda ini butuh lirikan dan potensinya perlu diasah. Tapi siapa yang akan mengasah?

Ditempat lain, ada anak muda berumur 22 tahun. Juga sangat menggilai sepakbola. Ketika ada yang menyuruh berhenti main bola, jawabannya sungguh “mengerikan”; “Menyuruh saya berhenti main bola sama saja artinya menyuruh saya berhenti bernafas”. Begitu dia tulis di salah satu akun medsosnya.

Itulah Sayyid Sutan Suhendy Alfaraby. Sekarang menjadi top skorer Turnamen Minangkabau Cup 2017. Hampir semua pertandingan yang diikuti bersama timnya ada sumbangan gol dari kaki atau kepalanya.

Harusnya di usia sekarang dan kemampuan yang dimilikinya, dia sesungguhnya sudah layak bermain di sebuah kompatisi resmi, setidaknya Liga 2. Kalau tidak, mungkin dia perlu mempertimbangkan kembali saran yang menyuruhnya berhenti main bola.

Kembali ke Utara, di Parik Rantang Kota Payakumbuh sana, seorang anak muda jelang 20 tahun, dulunya tercatat sebagai sebagai salah satu talenta terbaik usia dini di Payakumbuh. Sayang karir bolanya tak menemukan muara yang pas. Ketika usia dini terlewati, hari-harinya hanya dihabiskan main tarkam atau paling banter turnamen tingkat daerah.

Suatu ketika dia melirik futsal. Dasar berbakat, namanya hidup di lapangan kecil ini. Bahkan akhirnya terpilih masuk tim futsal PON Sumbar 2016, dan mencetak empat gol di multi iven nasional itu. Afis Yunanda, Finan panggilannya, si bengal yang sedang terombang-ambing.

Ketika futsal memberinya sedikit ketenaran dan harapan lebih berkibar, tapi sepakbola tetap menggodanya, jadilah hari-harinya habis bertarkam-ria, entah itu futsal atau sepakbola. Sayang memang, bakat bagus yang akhirnya serba tanggung muaranya.

******

Turnamen Minangkabau Cup 2017, sudah berada di penghujungnya. Givan, Sayyid, dan Finan, adalah tiga pemain yang ikut terlibat di turnamen antar kecamatan ini. Mereka hanyalah sedikit ilustrasi permasalahan yang dihadapi pesepakbola-pesepakbola muda di daerah ini.








loading...

Mungkin banyak Givan, Sayyid, dan Finan lainnya yang terlibat di Minangkabau Cup ini, dan mereka mungkin punya permasalahan yang kurang lebih sama. Muara, itulah kuncinya. Mau kemana mereka setelah turnamen ini?

Kalau yang terjaring bisa masuk tim daerahnya berlaga di kompetisi resmi semacam Liga 3 mungkin masih ada ajang untuk berkiprah. Dan, itu jumlahnya pasti tidak akan banyak.

Selebihnya mungkin hanya akan bermain di turnamen antar kampung, atau banting stir sekadar mencari pelarian bermain futsal. Sama banyaknya dengan mereka yang menunggu, syukur-syukur turnamen ini masih ada tahun depan.

Sebuah kabar gembira sebenarnya ketika Panpel MKC 2017, juga IGC tahun sebelumnya, bahwa ajang ini adalah arena berburu pemain-pemain muda berbakat, yang pada akhirnya akan menjadi masa depan sepakbola Sumbar, dibalut dengan lebel The Dream Team Sumbar 2020.

Hanya saja, mungkin hal ini perlu diperjelas dan dipertegas lagi. Karena berkaca dari pemain-pemain yang terjaring di IGC 2016, juga belum clear muara dan tindakan untuk mereka. Setelah dijaring tim talent scouting, mereka belum diapa-apakan. Sampai akhirnya, one year later!

Setelah MKC, jumlah pemain yang terjaring sedikit banyak juga akan semakin membengkak. Karena pasti ada bakat-bakat baru yang terjaring diluar yang sudah masuk data base pemain yang sebelumnya terjaring di IGC 2016.

Mungkin inilah yang perlu difikirkan bersama-sama oleh pengelola MKC 2017 dan pihak-pihak terkait setelah gebyar turnamen ini selesai nantinya. Sebuah tugas besar menunggu, dan barisan pemain yang terpantau juga menunggu, mau diapakan mereka selanjutnya.

Yang muda, berbakat, dan alami seperti Givan misalnya, jelas membutuhkan lirikan dan polesan untuk meneruskan impian mereka di sepakbola. Mereka telah berusaha menampilkan apa yang mereka miliki membela timnya masing-masing di Minangkabau Cup, dengan harapan namanya dibubuhkan di kertas kerja tim talent scouting.

Pastinya tak banyak yang akan masuk, tapi setidaknya jika mata jeli tim scout terpikat ada harapan mereka untuk berkembang. Syukur-syukur bisa masuk the dream team Sumbar 2020, seperti yang dipetakan tim pengelola MKC.

Yang usia nanggung seperti Sayyid, juga membutuhkan pentas baru untuk melanjutkan impiannya bermain di kompetisi resmi. Pun pemain seperti Finan, diusianya yang yang masih bisa tampil di PON 2020, entah futsal atau sepakbola juga harus diarahkan untuk membuat pilihan.

Lagi-lagi sebuah kabar baik, ketika ada rencana membentuk sebuah klub untuk menampung para jebolan MKC ini. Namanya pun sudah disiapkan, Tuah Sakato FC. Kabarnya sedang dipersiapkan mulai dari manajemen, pelatih, home base, dan sebagainya. Ujungnya nanti adalah ikut berkompetisi.

Di klub itu mereka akan ditempa, diasah, dan diberikan iklim kompetisi. Karena memang pemain yang bagus dan mengkilap itu hanya akan lahir dari sebuah kompetisi. Sebuah batu loncatan ideal untuk menuju The Dream Team 2020.

Well, sekarang tinggal keseriusan dan eksekusinya saja. Karena secara konsep, trivia “MKC – Tuah Sakato FC – Dream Team 2020”, sesungguhnya sudah berada di rel yang benar.

Inilah PR besar sesungguhnya pasca turnamen MKC ini, jika diparalelkan dengan misi masa depan sepakbola Sumbar yang diusung. Tentunya ini baru bisa terlaksana jika dikerjakan bersama-sama, mulai dari Pemerintah, Asprov PSSI, dan para pelaku sapakbola daerah ini.

Sebuah pekerjaan yang terlalu besar, kalau terlalu jorok dikatakan mustahil, jika hanya dipikirkan dan dikerjakan oleh satu atau dua individu saja.

Jika tidak, turnamen antar kecamatan ini hanya akan menjadi rutinitas tahunan, yang pastinya akan semakin terasa hambar dari tahun ke tahun. Seorang Givan tetap akan terkubur dengan potensinya, seorang Sayyid juga tak akan pernah sampai di impiannya, dan Finan akan tetap terombang-ambing. (*)

*)Penulis pemegang kartu UKW, dengan kompetensi Wartawan Utama 

 

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top