Loading...
KabarSport

Catatan Sepakbola: Sulitnya Pemain Muda Menembus Skuad Inti Semen Padang FC

Adi Nugroho, satu dari sedikit pemain muda Semen Padang yang mulai mengintip kesempatn di tim senior. (foto: GTS)


yandiPenulis: Heryandi Djahir
(Mantan Manejer  Semen Padang FC)

SUMATERA tidak kehabisan talenta muda sepakbola. Itu adalah sebuah kenyataan. Dengan adanya Semen Padang FC yang ber-homebase ditengah Sumatera, sedikit banyak menjadi daya tarik tujuan berkarier.

Hal ini mengakibatkan memberi dampak positif bagi pemain muda yg tumbuh berkembang bersama klub asalnya untuk mengadu nasib ke Semen Padang FC.

Terlebih lagi, dengan adanya wadah Semen Padang U-21 yang menjadi jenjang menuju Semen Padang senior. Pertanyaanya, berapa orang yg “moncer” bersama senior? Saya sendiri tidak bisa menjawabnya. Mengapa begitu sulit pemain muda menembus skuad inti di tim senior Semen Padang FC?

Coba kita refresh dan flashback sedikit ke nama nama pemain yg beredar. Sebut saja Febly Gushendra, centre back pelapis Hansamu Yama di timnas U-19 lalu yang dipanggil dari Semen Padang. Atau, Guntur Rachman, M.Alwi Slamat, Rully Desrian yg pernah mencicipi team U-19 Semen Padang.

Katakanlah Rully yang “move on” ke Bali United bertemu dengan mantan coach-nya, Alwi masih diikat di SPFC. Ada juga nama-nama lain yang masuk seleksi 30 orang yang dipanggil untuk persiapan SEA Games 2015. Disana ada yang dipanggil dari Semen Padang FC, seperti Hendra Bayauw, Safrial Irfandi, dan Irsyad Maulana.

Bayauw dan Irsyad mungkin sudah nyaman dengan klubnya masing-masing, tetapi Irfandi, sang kapten SPFC U-21 yang juara ISL U-21 2014? Dia masih mencari-cari jatidiri. Sempat di Produta, PSMS Medan, PS TNI, dan akhirnya balik lagi ke PSMS.

Ada lagi pemain terbaik mantan SPFC U-21, Nerius Alom, yang pernah test di Bali United setelah keluar dari SPFC, akhirnya terdampar di Persipura Jayapura dan sempat tampil di Piala Presiden yang lalu.

Malah Agung Prasetyo yang dari PSM Makassar dan timnas U-23 SEA Games 2015 yang merapat ke SPFC senior. Walau begitu, sampai saat ini Agung masih menjadi pelapis diusia emas nya yang 25 tahun. Sama dengan Fandry Imbiri atau Christovel Sibi yang masih harus bersabar masuk skuad inti tim senior.

Kalau kita bandingkan talenta-talenta muda yg dekat dengan kota Padang seperti Hendra Sandi Gunawan, Zulfiandi (Aceh), atau Ichsan Kurniawan (Sumsel) adalah sedikit nama yang  berhasil menggapai sukses di klub, bahkan timnas.









loading...

Coba kita lihat lihat 5 orang talenta muda SPFC U-21 yang di tahun 2016 ini masih terikat dengan klub saat ini; Adi Nugroho (PON Kaltim-striker), Reza Pahlevi (PON Sumut – Striker), Rendy Oscario (kiper), M. Alwi Alwi Slamat, Dimas Sumantri.

Saat ini baru Adi Nugroho yang mulai menapak naik. Sedangkan Dimas Sumantri, timnas U-19 era Indra Safri, dan Alwi Slamat ex timnas U19-2016 masih belum mendapat panggung.

Seandainya memang ada krisis kiper saat ini, bisa menjadi berkah buat Rendy yang berkesempatan menjadi pelapis Rivky Mokodompit di laga tandang melawan Persela Lamongan akhir pekan ini, siapa tahu?

Well, inti permasalahannya sekarang adalah, banyak diantara kita yang mempertanyakan kenapa talenta muda ini jarang diturunkan. Atau, benarkah coach tidak Suka dengan pemain Muda?

Saya mungkin bisa sedikit sedikit berbagi pengalaman. Bentuknya mungkin semacam pesan bagi pemain-pemain muda. Intinya adalah, buatlah Coach terkesan dengan performa Anda. Bagaimana caranya?

1. Tujukkan dan tingkatkan terus menerus ability, skill, dan spirit Anda dalam kesempatan apapun, baik dalam latihan ringan, game internal, ujicoba, maupun pada kesempatan diturunkan dalam pertandingan.

2. Seorang pelatih pastilah menginginkan standar permainan yang tinggi dari anak asuhnya. Menciptakan jiwa pertarung yang siap berperang adalah tuntutan yang mutlak. Jangan berfikir ada rasa tidak suka, karena yang akan masuk skema pelatih hanya yang siap.

3. Lakukan porsi latihan tambahan untuk meningkatkan skill dan ability, maupun VO2MAX.

Mari kita lihat contoh atau referensi pada seorang pemain yang bernama Adnan Januzaz. Pemain Timnas Belgia berusia 21 tahun ini punya standar permainan tingkat tinggi, tapi belum mampu menembus tim inti Mananchester United, sehingga sekarang dipinjamkan ke klub medioker Sunderland. Sebelumnya juga pinjamkan ke Borussia Dortmunt.

Lihat juga Michy Batshuayi di Chelsea, talenta muda yang kalah bersaing dengan Diego Costa, dan harus juga dipinjamkan ke Olympic Marseille. Nah, kalau Adi Nugroho kalah bersaing dgn Nur Iskandar, kemana mau dipinjamkan?

Jadi, yang bisa merubah nasib seorang pemain tak lain tak bukan adalah pemain itu sendiri. Masih ingat dengan M.Syukron, mantan penjaga gawang Semen Padang dan PSP Padang.

Karena dipanggil Timnas, saking bersemangatnya dia tetap menambah porsi latihan walaupun ditengah malam. Dibilang gila, dia tidak peduli. Atau Aprius, winger kawakan Semen Padang era 1980-an.

Sebelum dipanggil Timnas, dia melakukan tambahan porsi latihan sendiri, mengasah shootingnya sampai tengah hari, tidak peduli terik matahari. Dan dia pun akhirnya memetik hasilnya dengan pemanggilan dirinya oleh Timnas. Itulah kira perbandingan positifnya.

Apakah harus seperti ini? Kalau anda belum masuk standar tinggi yg dingini seorang pelatih, janganlah menuntut lebih. Bagi yang tidak sabar pasti akan memilih jalan keluar. Tidak bisa bermain di ISC-A, di ISC-B pun jadi opsi.(*)

Bagaimana pendapat anda?

Loading...

Terpopuler


To Top