Loading...
KabarMiliter

Brimob Pasukan Elite Pertama Yang Dibentuk di NKRI

kabarin.co – Brimob pertama-tama terbentuk dengan nama Pasukan Polisi Istimewa, kesatuan ini pada mulanya diberikan tugas untuk melucuti senjata tentara Jepang, melindungi kepala negara, dan mempertahankan ibukota, Pasukan Polisi Istimewa turut berjuang dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, di bawah pimpinan Inspektur Polisi I MOEHAMMAD JASIN, Pasukan Polisi Istimewa ini mempelopori pecahnya pertempuran 10 November 1945 melawan Tentara Sekutu, Pasukan Polisi Istimewa merupakan kesatuan paling pertama di Indonesia, pada masa penjajahan Jepang Pasukan Polisi Istimewa dikenal dengan sebutan Tokubetsu kaesatsutai, pasukan ini yang pertama kali mendapat penghargaan dari Presiden pertama Republik Indonesia Ir. SOEKARNO yaitu SAKANTI YANOUTAMA.

Komisaris Jenderal Polisi Mohammad Jasin. Dialah Jenderal yang dikenal sebagai Bapak Korps Brimob Polri.

Pada tahun 1945, di daerah Surabaya dan sekitarnya, nama Mayor Sabarudin sangat ditakuti. Dia menjabat Komandan Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR) Karesidenan Surabaya. Walau polisi militer, kelakuan Sabarudin jauh dari teladan seorang perwira militer.

Baca Juga  Satgas Yonif Raider 515 Kostrad Jalin Sinergi Bersama Polri Melalui Karya Bhakti di Bulan Suci Ramadhan

Sabarudin berlaku sebagai penguasa. Dia memenggal seorang pemuda di alun-alun Surabaya karena kalah bersaing dalam urusan cinta. Enteng pula Sabarudin menembaki orang-orang yang dituduhnya mata-mata Belanda. Tak ada yang berani pada Sabarudin ketika itu. Polisi dan tentara juga takut pada Sabarudin.
Sabarudin juga gemar menculik tahanan wanita Belanda. Dia memilih yang cantik-cantik untuk dijadikan budak seks. Para wanita itu disekap di markas PTKR. Mereka dinikahi paksa oleh Sabarudin dan dipaksa melayani nafsu seks si komandan bejat ini.

Puncaknya, Sabarudin bahkan berani menculik Mayor Jenderal Mohammad. Penyebabnya, Mayor Jenderal Mohammad menolak memberinya uang operasional. Memang sudah lama, Mayor Jenderal Mohammad mencurigai Sabarudin yang gemar korupsi.

Baca Juga  Perwira Remaja dan Bintara Remaja Korps Marinir TNI AL Resmi Sandang 'Baret Ungu'

Markas besar angkatan perang merasa perlu mengambil tindakan tegas. Jenderal Soedirman sendiri yang memanggil Inspektur Polisi Jasin ke Yogyakarta. Jasin adalah Komandan P3 atau Pasukan Polisi Perjuangan, saat ini disebut Brigade Mobil atau Brimob. Soedirman memerintahkan Jasin melucuti pasukan Sabarudin dan menangkapnya.

“Pimpinan Divisi Tentara itu takut pada Mayor Sabarudin. Oleh karena itu saya memberikan tugas itu pada Saudara Jasin. Panglima besarlah yang bertanggung jawab,” demikian jawaban Sudirman seperti ditulis dalam buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010.

Maka Jasin pun mengumpulkan pasukannya di Surabaya. Ada dua setengah kompi, sekitar 200 orang anggota pasukan ditambah dua mobil lapis baja. Mereka segera bergerak menuju Mojokerto, tempat Sabarudin bersarang.

Baca Juga  Penyuluhan HIV dan Pemeriksaan Kesehatan Satjar Brigif Para Raider 3 Kostrad

Pasukan Jasin bergerak cepat dan taktis. Mereka menyebar mengepung markas Sabarudin. Tanpa perlawanan Sabarudin menyerah. Jasin pun menahan dan melucuti mereka.

“Dalam penggerebekan itu ditemukan delapan wanita Eropa yang sedang hamil dan empat besek penuh perhiasan emas dan berlian. Wanita dan emas itu diduga dirampas dari kamp-kamp tahanan bangsa Eropa,” kata Jasin.

Semua temuan itu tak ada yang di korupsi Jasin. Dia menyerahkan semuanya pada dewan pertahanan Surabaya di Mojokerto.

Sabarudin akhirnya diadili dan diputus bersalah. Dia dihukum penjara. Tindakan Jasin menyelamatkan para wanita itu dari perbudakan seks sekaligus memulihkan keamanan di Surabaya dan sekitarnya.

Sumber : buku Memoar Jasin Sang Polisi Pejuang: Meluruskan Sejarah Kepolisian Indonesia yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, Jakarta tahun 2010.

(han/kab)

Loading...

Terpopuler


To Top