Loading...
Daerah

Bercadar, Dosen IAIN Bukittinggi Dilarang Mengajar

kabarin.co – Padang, Seorang dosen wanita di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukitinggi, Sumatra Barat dilarang mengajar karena menggunakan cadar. Menurut IAIN dosen tersebut dianggap melanggar disiplin berpakian bagi dosen.

Dosen tersebut adalah Dr. Hayati Syafri, yang bertugas mengajar Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Bukittinggi. Hayati menyebutkan, penonaktifannya sebagai tenaga pengajar berlaku mulai semester genap tahun akademik 2017/2018 ini.

Bercadar, Dosen IAIN Bukittinggi Dilarang Mengajar

Larangan pun hanya dilakukan secara lisan oleh Dekan. Dalam surat terakhir yang diterimanya, Hayati dianggap melanggar disiplin berpakaian bagi dosen.

Sebenarnya, kata dia, upaya kampus untuk memintanya melepas cadar sudah dilakukan sejak ia pertama kali mengenakan cadar pada 2017 lalu. “Sudah banyak cara dilakukan, misal lewat teman dekat saya diminta bujuk saya. Lalu dipanggil dan diminta buka cadar. Lewat surat teguran, dan terakhir dipanggil di sidang kehormatan dosen dan terakhir diminta libur mengajar,” kata Hayati, Selasa (13/3).

Baca Juga  Antrean di Pelabuhan Gilimanuk Mengular, Ada Gempa 3,5 SR Pemudik Cuek

Namun menurut Hayati, permintaan kampus untuk membuka cadar karena cadar dianggap mengganggu proses belajar mengajar. Apalagi Hayati mengajar mata kuliah Bahasa Inggris di mana ada materi speakingyang diyakini memerlukan kejelasan ekspresi wajah. Pihak kampus juga beralasan bahwa ada laporan dari mahasiswa yang mengaku kurang nyaman dengan gaya berbusana Hayati.

Padahal Hayati mengaku, sejak awal semester ganjil tahun 2017, dirinya sudah meminta izin untuk tetap mengenakan cadar, kepada mahasiswanya di 9 kelas yang berbeda. Bahkan di akhir semester ganjil 2017 lalu, Hayati membagikan lembar evaluasi yang menanyakan apa tanggapan mahasiswanya terkait pengenaan cadar olehnya.

Lembar evaluasi ditulis tanpa nama. Umumnya mereka katakan tidak apa-apa saya kenakan cadar. Memang ada sebagian kecil mahasiswa yang katakan belum terbiasa lihat saya pakai cadar. Tapi mereka tidak rekomendasikan Umi membuka cadar,” katanya.

Baca Juga  Sadis, Pria Idap Gangguan Jiwa Dibakar Hidup-hidup

Hayati menjelaskan, pihak kampus sempat mengadakan rapat dewan kehormatan dosen untuk memintanya kembali mengajar tanpa cadar. Menanggapi hal itu, ia meminta istikharah dan hasilnya Hayati tetap bersikukuh untuk mengenakan cadar.

Di waktu menyampaikan itu lah, beliau sampaikan Ibu nonaktif saja. Saat saya minta surat, dibilang lisan saja, tanpa surat. Beliau bilang bahwa ini perintah atasan,” katanya.

Pimpinan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi di Sumatra Barat membantah anggapan bahwa pihaknya melarang pengguanaan cadar bagi mahasiswi dan dosen di lingkungan akademik. Kepala Biro Administrasi Umum Akademik dan Kemahasiswaan IAIN Bukittinggi, Syahrul Wirda, menyatakan bahwa imbauan yang diterbitkan kampusnya sesuai dengan kode etik yang disepakati seluruh civitas akademika.

Baca Juga  Malam Pembukaan 'Alek Gadang' Tour de Singkarak 2016 Akan Dimeriahkan Oleh Noah

Syahrul menerangkan, sejak tahun 2017 lalu IAIN Bukittinggi sudah menjalankan langkah persuasif bagi mahasiswi dan dosen bercadar untuk mengikuti ketentuan berbusana sesuai kode etik kampus. Poin yang menjadi bahan pertimbangan kampus, lanjutnya, adalah upaya untuk menghindari justifikasi bahwa penggunaan cadar menunjukkan tingkat ke-Islam-an yang paling sempurna bagi seorang muslimah.

Kadang yang kami takutkan, mereka posisikan diri bahwa yang bercadar itu yang benar. Itu nggak mau kita. Jangan justifikasi orang yang tidak bercadar belum sempurna Islamnya,” jelas Syahrul. (epr/rep)

Baca Juga:

Universitas Kehilangan Nalar Ilmiah Akibat Larangan Bercadar

Bikin Heboh, Universitas Andalas Larang LGBT Kuliah di Kampus

Unand Larang Mahasiswa Lakukan Aktivitas Malam di Kampus

Loading...

Terpopuler

To Top