Loading...
Daerah

Berangkat Sekolah Tanpa Helm, Siap-siap Diantar Polwan Cantik

kabarin.co – Orang tua seringkali mengabaikan keselamatan anak-anak di jalan raya. Pemandangan yang sudah jamak dilihat adalah saat mengantarkan anak-anak ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor, banyak anak yang tidak mengenakan helm. Beragam alasan dikemukakan orangtua, mulai dari buru-buru, jarak yang dekat dan alasan kepraktisan.

Melihat banyak anak-anak yang membonceng sepeda motor tanpa mengenakan helm saat berangkat sekolah, Satlantas Polres Semarang menggelar program “Budhal Aman Bareng Polisi” (BAP) yang berarti berangkat aman bersama polisi.

Pada program ini, para Srikandi Zebra-sebutan untuk polisi wanita di Satlantas Polres Semarang, akan memberhentikan orang tua yang mengantarkan anak ke sekolah dengan sepeda motor, tetapi anak tersebut tidak mengenakan helm.

Para polwan cantik ini kemudian akan meminjamkan helm kepada si anak dan mengantarkannya sampai ke sekolah.

“Kecelakaan itu kan tidak mengenal jarak, tidak melihat ruang dan waktu. Duduk di depan rumah saja bisa terkena kecelakaan. Kerasnya aspal tidak mengenal jauh dekat,” kata AKP Dwi Nugroho, Kasatlantas Polres Semarang saat memantau kegiatan BAP di simpang empat Sidomulyo, Jl A Yani Ungaran, Senin (22/8/2016) pagi.

Program berangkat aman bareng polisi ini mendapat respons positif dari masyarakat. Salah satunya, Rani (36) warga Sidosari Town Square, Sidomulyo yang hendak mengantarkan anaknya Nabila ke SD Islam Istiqomah Ungaran.

Menurut Rani, dengan diingatkan oleh polisi, si anak akan lebih tertib mengenakan helm.

“Bagus, biar anak terlatih. Besok tinggal saya bilang, mau pakai helm atau kalau ndak nanti diantar polisi lagi lho,” kata Rani.

Masih menurut Dwi, kegiatan Budhal Aman bareng Polisi (BAP) ini sengaja menaruh Polwan di garda terdepan. Polwan dengan rasa keibuannya dianggap akan lebih mudah menyadarkan para orangtua maupun anak agar tertib berlalu lintas.

Tampil sehumasnis dan sesimpatik mungkin, para polwan ini memakai selempang dan membawa permen yang akan dibagikan kepada anak-anak yang tidak membawa helm. Dua buah boneka badut juga turut memeriahkan suasana.

Kendati para polwan yang berinteraksi langsung dengan orang tua dan anak-anak yang tidak mengenakan helm, tidak jarang anak-anak menangis karena takut. Jika kondisinya demikian, petugas akahirnya mengalah. Si anak tetap dipinjami helm dan tetap membonceng orang tuanya, namun dikawal polisi sampai ke sekolah.

“Kalau ada yang nangis ya itu dinamika kegiatan. Malah itu natural, menunjukkan kegiatan ini tidak di-setting. Upaya yang kita lakukan tetap humanis, simpatik. Tidak wah pokoknya harus pakai helm, tapi disadarkan,” lanjutnya.

Menurut Dwi, program BAP ini tidak akan ditargetkan kapan waktunya berakhir. Namun dirinya optimis, melalui BAP ini para orangtua dan anak-anak akan sadar tentang keselamatan berlalu lintas. Ia hanya mengingatkan, anak-anak adalah aset bangsa sehingga harus dijaga keselamatannya, termasuk di jalan raya.

“Kalau memang sekarang diingatkan, terus besok lewat lagi masih tidak menggunakan helm. Saya rasa kita orang Indonesia, masih ada budaya malu. Kalau sudah lebih dari dua atau tiga kali, saya rasa pada akhirnya akan timbul kesadaran dari orang tua ataupun anak tersebut,” lanjutnya.

Ia menyebutkan, program ini tidak hanya akan berhenti menyasar anak-anak sekolah, namun juga akan menyasar pasar dan pabrik-pabrik di Kabupaten Semarang. (kom)

Loading...

Terpopuler


To Top