Loading...
KabarUtama

Anies Bawesdan: Indonesia Mesin Terkuat Asia Tenggara

kabarin.co – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Rasyid Baswedan menyebut Asia Tenggara menjadi kekuatan Asia yang saat ini sedang bangkit dan perlahan akan mendominasi dunia. Sementara Indonesia menjadi mesin terkuat Asia Tenggara karena memiliki keunggulan mampu mengelola keberagaman.

“Asia sedang bangkit, Asia sedang akan mendominasi. Asia sedang mengkhawatirkan berbagai kepentingan status quo yang mendominasi percaturan dunia dalam 350 tahun terakhir,” ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Rasyid Baswedan dalam sanbutanya di acara penutupan Konvensi Nasional Indonesia Berkemajuan (KNIB) di Sportarium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Selasa (24/05/2016).

Baca Juga  Suap Meikarta, Bupati Bekasi dan Bos Lippo Group Ditangkap KPK

Anies mengungkapkan, persis sebelum revolusi industri tahap pertama lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia ada di Asia. Begitu terjadi revolusi industri Eropa mengalami perubahan dan menguat.

Di akhir tahun 1990-an untuk pertama kalinya ekonomi Asia bangkit. Mesin kebangkitan ekonomi Asia waktu itu adalah Korea Selatan, China, dan Jepang. Namun, dilihat dari sisi politik negara-negara di Asia Timur tidak akan menjadi kekuatan besar. Sebab kecil kemungkinan mereka bekerja sama.

Baca Juga  Jokowi: Tahun Depan Istana Presiden Dibangun di Papua

“Di sana mempesona sebagai satu negara tetapi tidak akan menjadi kekuatan besar bersama. Sebab memiliki persoalan kultural, politik yang sangat dalam,” ujarnya.

Sementara sejak tahun 1965 negara-negara di Asia Tenggara telah menjalin kerja sama dalam membangun insfratruktur baik bidang sosial dan politik. Saat ini Asia Tenggara dalam fase matang.

“Negara-negara di Asia Tenggara bisa bekerja sama, karena itu masa depan Asia kekuatannya ada di Asia tenggara dan Indonesia menjadi mesin terkuatnya,” katanya.

Baca Juga  MPR: Asing Boleh Saja Mengelola Pulau Indonesia, Asalkan...

Menurut dia, Indonesia menjadi mesin terkuat di Asia Tenggara karena memiliki nilai tawar yakni kemampuan dalam mengelola keberagaman. Di dunia tidak banyak bangsa yang mampu mengelola keberagaman seperti yang telah di jalankan oleh Indonesia.

“Kita harus menawarkan gagasan itu untuk bersaing dan disertai dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Insyallah kita akan menjadi pemenang,” ucap dia. (kom)

Loading...

Terpopuler

To Top